Terowongan Tambang Diklaim Tak Akan Menjalar ke Kota
Salah satu isu yang mengemuka dalam diskusi adalah kekhawatiran masyarakat bahwa pengembangan underground mining PT CPM di Poboya dapat meluas hingga ke kawasan permukiman di Kota Palu.
Yan memastikan anggapan tersebut tidak sesuai dengan desain teknis yang diterapkan perusahaan.
Menurutnya, area operasi tambang bawah tanah berada sekitar 30 meter di bawah permukaan tanah dan hanya berkembang mengikuti jalur cadangan bijih yang berada di dalam wilayah konsesi perusahaan.
Secara horizontal, pengembangannya diperkirakan tidak lebih dari satu kilometer sehingga berada jauh dari kawasan permukiman maupun pusat Kota Palu.
“Pengembangan underground mining PT CPM di Poboya tidak menyebar ke segala arah. Tambang mengikuti urat bijih yang berada di area konsesi. Jadi tidak berkembang sampai ke Kota Palu seperti yang sering dikhawatirkan,” ujarnya.
Desain Tambang Disiapkan Hadapi Risiko Gempa
Kedekatan wilayah tambang dengan Sesar Palu-Koro juga menjadi perhatian peserta diskusi.
Menanggapi hal itu, Yan menjelaskan desain tambang bawah tanah telah disusun sejak 2023 dengan memperhitungkan berbagai skenario terburuk, termasuk kemungkinan gempa berkekuatan hingga magnitudo 7,8.
Menurutnya, langkah tersebut justru dilakukan karena Sulawesi Tengah merupakan kawasan yang aktif secara tektonik sehingga seluruh infrastruktur tambang harus dirancang mampu menghadapi potensi ancaman geologi.
Ia mengingatkan, berdasarkan catatan sejarah, gempa besar telah berulang kali terjadi di wilayah Palu jauh sebelum aktivitas pertambangan modern berlangsung.
“Gempa besar di wilayah ini sudah terjadi sejak lama. Jadi tidak ada korelasi antara aktivitas pertambangan dengan terjadinya gempa bumi. Yang harus kami lakukan adalah memastikan desain tambang mampu mengantisipasi risiko gempa demi keselamatan pekerja dan infrastruktur,” katanya.





