PALU, KABAR SULTENG – Di simpang Jalan Danau Poso dan Jalan Sungai Moutong, Kelurahan Ujuna, Kecamatan Palu Barat, sebuah warung kopi bernama Warkop Harapan masih mempertahankan cara lama di tengah menjamurnya kedai kopi modern.
Usaha keluarga ini telah diwariskan selama empat generasi, sejak Tan A Kui mendirikan Warung Kopi Harapan di kawasan Ujuna pada 1953.
Kini, usaha tersebut diteruskan Oscar, generasi keempat keluarga. Ia tetap mempertahankan racikan kopi, cara penyeduhan, hingga penggunaan arang kayu bakar yang menjadi ciri khas Warkop Harapan.
Baca juga: Kapolda Sulteng Terbitkan Maklumat Larangan Pembakaran Hutan dan Lahan, Pelaku Terancam Pidana
Setiap pagi, arang dinyalakan. Air mendidih dituangkan melalui saringan ke dalam cerek kuningan sebelum kopi disajikan kepada pelanggan.
Biji kopi yang digunakan berasal dari petani di Kulawi, Napu, dan Palolo. Keluarga Oscar kemudian menyangrai sendiri biji kopi tersebut sebelum diolah menjadi minuman yang telah dikenal pelanggan selama puluhan tahun.
Suasana di Warkop Harapan juga tidak banyak berubah. Pejabat, pebisnis, wartawan hingga masyarakat umum duduk berdampingan menikmati kopi dan makanan tradisional seperti nasi kuning, telur setengah matang, jomu-jomu, roti bakar selai kaya, hingga Roti Lamadjido.
Nama terakhir memiliki cerita tersendiri. Roti bakar yang dicampur telur kocok itu kerap dipesan Rully Lamadjido, Wali Kota Palu periode 1995–2000. Dari kebiasaan tersebut, menu itu kemudian dikenal pelanggan sebagai Roti Lamadjido.
Di tengah tren kedai kopi kekinian, Oscar memilih tidak mengubah karakter usaha yang diwariskan keluarganya.
“Kami sudah punya pelanggan sendiri. Orang datang ke sini bukan cari suasana kekinian, tapi cari rasa yang sama seperti puluhan tahun lalu,” kata Oscar, Rabu (26/8/2026).
Baginya, mempertahankan rasa bukan sekadar soal bisnis, tetapi juga cara menjaga warisan keluarga.
“Kami tidak mengubah resep dari zaman kakek. Yang berubah paling-paling cuma jumlah gelas yang harus kami siapkan tiap pagi,” ujarnya.
Perjalanan Warkop Harapan tidak bisa dilepaskan dari kisah keluarga Tan A Kui. Menurut cerita keluarga, A Kui berasal dari Guangdong, Cina Selatan, dan diperkirakan tiba di Palu sekitar dekade 1940-an.
Pengetahuan meracik kopi yang kemudian menjadi ciri khas keluarga tersebut disebut diperoleh A Kui ketika kembali ke Cina dan belajar dari tradisi Hainan.
Meski memiliki kemiripan dengan tradisi kopi Hainan di Asia Tenggara, hubungan langsung tersebut masih berdasarkan cerita keluarga. Belum ada dokumen sejarah yang dapat memastikan kapan dan dari siapa teknik tersebut dipelajari.
Pengetahuan itu kemudian bertemu dengan bahan baku lokal Sulawesi Tengah. Biji kopi dari pegunungan Kulawi, Napu, dan Palolo diproses keluarga dan disajikan dengan teknik yang dipertahankan lintas generasi.
Setiap pagi, ketika arang kembali menyala dan kopi mengalir dari cerek kuningan ke gelas pelanggan, perjalanan yang dimulai Tan A Kui lebih dari tujuh dekade lalu masih terus berlangsung.
Lebih dari Sekadar Warung Kopi
Ketua APINDO Sulawesi Tengah, Wijaya Chandra, menilai Warkop Harapan bukan sekadar usaha kuliner yang mampu bertahan lintas generasi.
Menurutnya, usaha seperti itu perlu dirawat dan dikembangkan karena menyimpan nilai ekonomi, sejarah, sekaligus identitas kota.
“Usaha yang dilakoni Oscar ini menjadi perhatian bagi APINDO Sulawesi Tengah, terutama bagaimana kita ikut merawat, menyebarluaskan, dan mendiseminasikan usaha-usaha yang memiliki latar belakang historis yang kuat seperti ini agar terus hidup dan menjadi bagian dari perkembangan kota,” kata Ko Dwi sapaan akrab Wijaya Chandra.
Ia menilai perkembangan ekonomi kota tidak selalu ditandai dengan hadirnya bangunan, pusat perdagangan, atau model usaha baru.
“Perkembangan kota tidak selalu harus ditandai oleh munculnya bangunan baru, pusat perdagangan baru, atau model usaha yang mengikuti tren,” ujarnya.
Menurut Ko Dwi, usaha yang bertahan puluhan tahun menyimpan pengalaman, pengetahuan, jaringan sosial, dan ingatan kolektif yang ikut membentuk identitas sebuah daerah.
Karena itu, merawat usaha bersejarah bukan berarti mempertahankannya dalam bentuk lama secara kaku. Nilai sejarah di dalamnya justru perlu dikenali dan dikembangkan agar tetap relevan ketika kota terus berubah.
Bagi APINDO, perpaduan sejarah, tradisi, dan aktivitas ekonomi itulah yang membuat Warkop Harapan lebih dari sekadar tempat minum kopi.
Di tempat itu, sejarah Kota Palu terus hidup lewat aktivitas sederhana yang berlangsung setiap hari.***
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini





