MOROWALI, KABAR SULTENG – Seorang pekerja yang bertugas sebagai Able Bodied Seaman (AB) atau juru mudi PT Citra Maritime mengaku mengalami kecelakaan kerja saat menjalankan tugas di sekitar Jetty LN20, kawasan industri nikel di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Korban mengaku bekerja sebagai juru mudi di PT Citra Maritime dengan rute Kolonodale–Morowali. Ia mengaku insiden tersebut terjadi di depan Jetty LN20, kawasan industri PT IMIP.
Kepada media ini, Ia mengaku mengalami kecelakaan saat hendak berpindah dari kapal menuju tongkang di depan Jetty LN20. Menurutnya, peristiwa itu terjadi pada tanggal (26/7/2026), sekitar pukul 01.00 WITA.
Baca juga: Masyarakat Akar Rumput Belum Merdeka dari Konsesi dan Dampak Tambang di Sulteng
Korban mengatakan, saat itu dirinya mendapat perintah dari nahkoda kapal untuk menuju tongkang. Ia kemudian bersiap dan turun menuju tongkang.
“Pada saat saya mau ke tongkang, kapal dan tongkang sudah sangat lengket. Jadi aman buat saya bergerak melangkah ke tongkang,” kata karyawan PT Citra Maritime yang enggan disebut namanya kepada media ini, Senin (17/8/2026).
Namun, saat dirinya melangkah, kapal tiba-tiba digerakkan. Akibatnya, ia terjatuh dari ketinggian dan tubuhnya terbentur kapal maupun tongkang.
Kondisi laut saat itu, kata dia, juga sedang berombak cukup keras. Gandhi mengaku sempat terpental ke laut dan kembali terbentur bagian tongkang.
“Dari kepala sampai kaki (sebadan) terbentur tongkang. Untung pada saat itu saya menggunakan safety,” ujarnya.
Korban mengaku tidak bisa berenang. Karena itu, penggunaan perlengkapan keselamatan disebutnya sangat membantu saat dirinya terjatuh ke laut.
“Kalau saya tidak menggunakan safety, mungkin saya sudah lewat pada hari itu. Pertama saya tidak bisa berenang, kedua ombak sedang kencang-kencangnya, dan ketiga saya sudah terbentur tongkang sebadan saat di laut,” katanya.
Yang membuatnya kecewa, korban mengaku tidak langsung mendapat pertolongan setelah kejadian. Ia bahkan mengaku sempat berada di laut hampir satu jam dalam kondisi malam hari dan ombak yang cukup keras.
“Kejadiannya saya di diamkan di laut hampir sejam. Saat itu ombak keras dan malam hari,” ujarnya.
Ia juga mengaku kecewa dengan sikap nahkoda kapal setelah kejadian. Menurutnya, nahkoda tidak langsung menemuinya pada hari berikutnya.
Beberapa hari kemudian, kata korban, nahkoda baru berbicara kepadanya. Namun, ucapan yang diterimanya justru membuatnya mempertanyakan bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan kru kapal.
“Dia cuma ngomong apa ke saya? ‘Nikmati prosesnya’,” katanya menirukan ucapan nahkoda.
Korban mengaku hingga kini masih merasakan sakit pada seluruh bagian tubuhnya akibat kejadian tersebut. Ia juga belum menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut untuk memastikan apakah terdapat luka dalam.
“Sebadan-sebadan masih sakit sampai sekarang. Saya belum tahu apakah mungkin ada luka dalam pada tubuh saya, karena saat ini masih merasakan sakit dan nyeri. Saya juga belum turun kontrol ke rumah sakit untuk rontgen,” ujarnya.
Menurutnya, setelah berada di kapal, dirinya juga tidak mendapatkan obat maupun pertolongan medis dari pihak kapal.
“Saat saya sudah di kapal pun, obat atau pertolongan yang diberikan kepada saya tidak ada sama sekali,” katanya.
Korban mengaku telah hampir tiga bulan mengalami kondisi tersebut. Ia juga belum mengetahui apakah pihak perusahaan mengetahui insiden yang dialaminya.
“Saya bukan suudzon, tapi kayaknya kejadian itu ditutup sama nahkoda dan kru di sana,” ujarnya.
Ia berharap perusahaan mengetahui kejadian tersebut dan mengevaluasi tanggung jawab nahkoda terhadap keselamatan kru di atas kapal.
“Supaya perusahaan juga bisa tahu tugas nahkoda di kapal bagaimana. Nahkoda bisa melindungi kru di atas kapal atau tidak,” katanya.
Harapannya kejadian serupa tidak kembali dialami pekerja lain.
“Supaya tidak ada lagi korban AB (juru mudi) seperti saya,” ujarnya.
Korban menyebut nahkoda yang bertugas saat kejadian bernama Supriadi.
Diketahui, PT Citra Maritime merupakan perusahaan pelayaran yang berbasis di Batam. Perusahaan disebut mengoperasikan kapal tunda (tugboat) dan tongkang (deck cargo barge) untuk kebutuhan distribusi logistik curah, termasuk nikel, batubara, dan bahan bakar.
Wilayah teluk dan kawasan pelabuhan nikel di Sulawesi, termasuk Bahodopi serta Morowali dan Morowali Utara, menjadi salah satu wilayah lintasan dan operasional kapal yang dikelola PT Citra Maritime.
Sementara pihak PT Citra Maritime yang dikonfirmasi melalui nomor 08127621xxxx, enggan memberikan tanggapan hingga berita ini diterbitkan.***
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini






