PALU, KABAR SULTENG – Tim peneliti dari Universitas Tadulako (Untad), IPB University, dan Universitas Hasanuddin (Unhas) mengungkap hasil riset terbaru mengenai kondisi kesehatan tanah di kawasan tambang emas Poboya, khususnya di area operasional PT Citra Palu Minerals (CPM).
Penelitian ini menitikberatkan pada mikroba tanah sebagai indikator kesehatan lingkungan di kawasan tambang Poboya dan ekosistem di sekitarnya.
Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Tadulako yang juga pegiat kajian lingkungan hidup strategis, Nur Edy, Ph.D., mengatakan penelitian tersebut dilakukan bersama Dr. rer. nat. Rahadian Pratama dan Ira Taskirawat, Ph.D.
“Kami meneliti mikroba tanah sebagai indikator kesehatan lingkungan di tambang Poboya dan ekosistem sekitarnya, lalu membandingkannya,” kata Nur Edy.
Baca juga: PT CPM Beberkan Desain Underground Mining di Poboya hingga Jawab Isu Gempa
Menurutnya, tanah bukan sekadar media tumbuh tanaman. Dalam satu genggam tanah terdapat miliaran mikroba yang berperan menguraikan bahan organik, menyediakan unsur hara bagi tanaman, hingga membantu menetralisir berbagai zat pencemar.
Melalui riset ini, tim peneliti berupaya menjawab tiga pertanyaan utama, yakni jenis mikroba yang hidup di sekitar tambang emas Poboya, pengaruh aktivitas pertambangan terhadap kehidupan mikroba tersebut, serta potensi mikroba yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bioprospeksi, seperti pengembangan obat, antibiotik, maupun pengikat logam.
Hasil penelitian menunjukkan komunitas mikroba tanah di area tambang masih berada dalam kondisi baik. Tingkat keragaman mikroba yang ditemukan bahkan setara dengan kawasan hutan di sekitarnya.
“Kami tidak menemukan tanda-tanda kematian massal mikroba tanah. Komunitas mikroba di area tambang justru memiliki kemiripan yang tinggi dengan kawasan hutan hulu,” ujarnya.
Tim peneliti juga tidak menemukan indikasi tekanan logam berat yang umumnya muncul pada kawasan tercemar. Nur Edy menjelaskan, mikroba yang hidup di lingkungan dengan paparan logam berat biasanya memiliki gen khusus sebagai mekanisme pertahanan.
Namun, dalam penelitian ini, gen ketahanan terhadap merkuri justru ditemukan dalam jumlah paling sedikit di area tambang yang diteliti.
“Hal ini sejalan dengan sistem pengolahan yang diterapkan perusahaan. Operasional tambang menggunakan sistem tertutup dengan proses sianida sesuai standar, bukan metode amalgamasi merkuri,” jelasnya.
Meski demikian, penelitian mencatat adanya perubahan kecil pada komposisi mikroba tanah. Salah satunya ialah peningkatan kelompok bakteri Actinomycetota, khususnya genus Streptomyces yang dikenal sebagai penghasil antibiotik alami.
Peningkatan tersebut terlihat secara bertahap dari kawasan hutan menuju area tambang dan lahan revegetasi.
Namun, perubahan itu dinilai masih sangat kecil dan belum menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik.
Berdasarkan seluruh temuan tersebut, tim peneliti menyimpulkan bahwa keberadaan vegetasi atau tutupan tanaman menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan tanah.
“Selama pohon dan semak tetap tumbuh, akar dan serasahnya mampu meredam gangguan dari aktivitas di atas permukaan sehingga fungsi biologis tanah tetap terjaga,” ungkap Nur Edy.
Penelitian ini juga mengungkap potensi besar kawasan hutan di sekitar Poboya sebagai sumber keanekaragaman hayati mikroba.
Tim peneliti berhasil menyusun genom bakteri Variovorax boronicumulans yang memiliki sejumlah gugus gen penghasil senyawa bioaktif serta jalur pengikat besi.
Selain itu, mereka menemukan dua kandidat spesies mikroba yang belum pernah tercatat sebelumnya.
“Hutan Poboya dapat diibaratkan sebagai apotek alam yang masih menyimpan banyak potensi untuk diteliti lebih lanjut,” katanya.
Bagi masyarakat maupun pengelola tambang, hasil penelitian ini menjadi pengingat pentingnya menjaga tutupan vegetasi selama kegiatan pertambangan berlangsung maupun setelah proses penambangan selesai. Pemantauan lingkungan secara berkala juga dinilai tetap diperlukan untuk memastikan kondisi tanah, air, dan ekosistem di sekitar kawasan tambang tetap terjaga.
Nur Edy menegaskan, keberadaan hutan dan tutupan alami di sekitar wilayah tambang tidak hanya penting bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jangka panjang sebagai sumber daya hayati yang berpotensi mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Saat ini, hasil penelitian tersebut masih dalam tahap penelaahan (under review) untuk dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Biological Chemistry.***
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini





