PALU, KABAR SULTENG – Koaksi Indonesia dan INDEF menilai Sulteng berpeluang menciptakan lapangan pekerjaan di sektor hijau alias green jobs di masa mendatang.
Tetapi, dua organisasi nirlaba itu menyingkap beberapa tantangan dalam mewujudkan kesempatan tersebut.
“Green jobs tidak hanya soal keberlanjutan dan efisiensi, tetapi juga terkait jenis pekerjaan yang akan hilang dan muncul. Sektor tambang di Sulteng suatu saat akan habis. Di sisi lain, energi baru terbarukan (EBT) menawarkan sekitar 500 ribu peluang kerja, terutama tenaga teknis, dan itu baru satu sektor,” ujar Manajer Kebijakan dan Advokasi Koaksi Indonesia, Azis Kurniawan di Palu, Kamis (27/11/2025).
Menurutnya, isu tenaga kerja dalam ekonomi hijau tidak hanya terkait penciptaan lapangan kerja, tetapi juga transformasi keterampilan (reskilling).
Bahkan tujuan utama penciptaan green jobs, sambung Azis, bukan sekadar mengejar tren global, melainkan menemukan minat dan profesi yang selaras dengan kebutuhan masa depan.
“Sulteng memiliki peluang besar untuk menyiapkan anak muda agar bertransisi ke green jobs, sehingga kesiapan keterampilan tenaga kerja menjadi kuncinya,” imbuhnya.
Atas dasar tantangan dan peluang itulah, lanjut Azis, sehingga Koaksi Indonesia berusaha berkontribusi, salah satunya dengan pelaksanaan Green Jobs Workshop guna meningkatkan pemahaman dan peran aktif anak muda dalam mendorong pekerjaan hijau.
Tetapi, dalam perjalanan menuju realisasi green jobs, Azis berpendapat bahwa begitu banyak kompleksitasnya, termasuk di Sulteng.
Baca juga: Komisi II DPRD Sulteng Sebut Tiga Urgensi Regulasi Ekonomi Hijau
“Pertanyaannya adalah bagaimana Sulteng bisa benar-benar bisa menghasilkan green jobs? Setiap sektor sebenarnya punya potensi, tapi butuh produktivitas, efisiensi, dan kolaborasi. Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, swasta, masyarakat sipil, kampus, dan industri harus bergerak bersama. Semua tempat bisa menjadi ranah green jobs, asalkan difasilitasi oleh kebijakan dan ekosistem yang tepat,” terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur INDEF, Eko Listiyanto, menyampaikan hasil riset INDEF bertajuk “Strategi Penguatan Tenaga Kerja dalam Era Mineral Strategis: Dampak terhadap Pasar Kerja dan Arah Peningkatan Kualitas Pekerja” mengungkapkan, meski turut mendongkrak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menjadi 41,18% pada 2024, penyerapan tenaga kerja lokal oleh hilirisasi nikel justru rendah.
Eko melaporkan jika lonjakan tenaga kerja IMIP dari 35 ribu (2020) menjadi 85 ribu (2025), di mana hanya 18% pekerja industri yang berasal dari kabupaten. Porsi pekerja formal di Sulteng juga hanya 34-37%, bahkan pekerja outsourcing dan kontrak jangka pendek mendominasi struktur tenaga kerja.
Masih terkait penelitian INDEF, sambung Eko, kondisi itu diakibatkan oleh rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mayoritas hanya lulusan SD-SLTA. Akibatnya, investasi hilirisasi akan tetap didominasi pekerja migran hingga kapasitas SDM lokal ditingkatkan secara agresif.
Karenanya, perlu ada pelatihan berbasis kompetensi yang didanai oleh industri dan pemerintah untuk meningkatkan kapasitas SDM lokal, memprioritaskan penyerapan tenaga lokal yang juga dapat mengisi posisi strategis, hingga jaminan upah yang layak, keselamatan kerja, dan kontrak kerja yang jelas.
“Sulteng menempati posisi strategis, bukan hanya karena menjadi pusat mineral namun juga ekonomi hijau. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas tenaga kerja menjadi kebutuhan mendesak yang harus segera diatasi oleh pemerintah,” tegas Eko.***
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini





