PARIMO, KABAR SULTENG – Badan Karantina Indonesia (Barantin) membidik tata kelola ekspor durian di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah.
Langkah ini diambil demi mendongkrak kualitas komoditas unggulan tersebut dari hulu hingga hilir agar mampu menembus pasar Tiongkok secara masif.
Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, menyatakan ekosistem ekspor durian saat ini harus dirombak agar lebih sehat. Tujuannya demi menguntungkan petani, pengusaha, sekaligus pemerintah daerah.
Masalahnya, jalur ekspor terganjal syarat ketat. Petani wajib mengantongi sertifikat Good Agricultural Practices (GAP) sebagai jaminan keamanan pangan global.
“Kami siap mendampingi petani untuk mendapatkan sertifikat GAP,” kata Karding saat meninjau rumah kemas (packing house) di Parigi Moutong, Kamis (28/5/2026).
Baca Juga: Idul Adha 2026, BRI Group Salurkan Lebih dari 5.000 Hewan Kurban
Penerapan GAP ini, Karding bilang, mencakup budi daya, panen, hingga pascapanen. “Petani harus segera mendaftarkan kebun mereka,” ujarnya.
Tantangan di lapangan tergolong besar. Dari total 42 rumah kemas yang menjamur di Sulteng, baru 7 unit yang mengantongi izin resmi ekspor ke Tiongkok.
Sisanya, masih ilegal untuk pasar Tirai Bambu. Barantin berjanji akan menyapu bersih kendala izin bagi 35 rumah kemas yang tersisa.
Pendampingan karantina bakal diperketat. Karding menegaskan, produk harus lolos uji ketertelusuran, bebas Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK), serta bersih dari residu pestisida.
Sisi lain yang disorot adalah birokrasi internal. Karding memberi peringatan keras kepada anak buahnya agar tidak bermain api dengan pungutan liar atau memperlambat izin petani.
“Jika ada oknum pegawai Barantin mempersulit atau melakukan gratifikasi dalam pengurusan sertifikat GAP, kami tidak segan menindak tegas,” ujar Karding.
Baca Juga: Jelang Idul Adha, Polres Parimo Pasok Hewan Kurban ke Lapas hingga Pesantren
Kabupaten Parimo bukan wilayah sembarangan. Daerah ini merupakan titik strategis perputaran duit dari bisnis durian.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 merekam, ekspor karantina menyumbang 7,31 persen terhadap PDRB komponen ekspor Sulteng. Khusus durian, nilainya mencapai Rp 304,4 miliar.
Kunjungan Karding ke Parimo, yang diinisiasi atas undangan Ketua Kadin setempat, menjadi sinyal kuat.
Tanpa konsistensi kualitas dan kepatuhan teknis negara tujuan, ratusan miliar rupiah potensi ekonomi daerah terancam menguap begitu saja. (**)
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini





