PALU, KABAR SULTENG – Ratusan massa dari Aliansi Buruh dan Rakyat Berkuasa menggelar aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di depan Kantor Gubernur Sulawesi Tengah, Jalan Sam Ratulangi, Kota Palu, pada Jumat, 1 Mei 2026.
Massa aksi menyuarakan tuntutan soal kepastian kerja hingga kesejahteraan pekerja.
Asap hitam dari ban bekas yang dibakar massa membubung ke langit, mengiringi tuntutan atas ketidakadilan buruh.
Dari atas mobil komando, Koordinator Lapangan, Fajar, menyinggung dampak konflik global yang dinilai bisa memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Fajar juga mendesak penghapusan sistem outsourcing, penolakan upah murah, serta perlindungan yang lebih kuat bagi pekerja.
“Perusahaan mengorbankan manusia demi angka keuntungan. Setiap kecelakaan kerja bukan takdir, tapi hasil kelalaian sistematis,” tegas Fajar dalam orasinya.
Baca juga: Catatan Redaksi: Nikel Sulteng Tumbuh, Perlindungan Buruh Runtuh
Selain itu, massa menyoroti praktik diskriminasi dan kekerasan terhadap buruh perempuan.
Massa aksi juga mengecam program magang yang dianggap mengeksploitasi mahasiswa sebagai tenaga kerja tanpa perlindungan hak.
Situasi sempat memanas ketika massa bergerak mendekati pagar kantor gubernur. Aparat kepolisian yang berjaga, termasuk Wakapolda Sulteng dan Kapolresta Palu, masuk ke tengah kerumunan.
Kehadiran mereka memicu reaksi massa hingga akhirnya diminta keluar dari barisan aksi.
Kekecewaan massa memuncak saat mengetahui Gubernur Sulteng, Anwar Hafid, tidak berada di tempat.
Suasana makin memanas ketika ditawarkan audiensi bersama gubernur melalui video call. Tawaran itu langsung ditolak mentah-mentah.
“Kami ingin bertemu Gubernur secara langsung. Kalau ingin bertemu, silakan tentukan waktu. Kami tidak mau dihargai lewat video call,” tegas Ridwan, salah satu orator yang disambut teriakan setuju dari massa.
Sebagai bentuk protes keras, massa aksi memberikan tenggat waktu 2×24 jam kepada Anwar Hafid untuk duduk bersama dan melakukan audiensi tatap muka.
Jika ultimatum tersebut diabaikan, massa mengancam akan kembali turun ke jalan dengan jumlah yang jauh lebih besar.***
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini





