Pentingnya Batas Bijak Pimpinan GKST di Tengah Sensitivitas Isu Publik

Pentingnya Batas Bijak Pimpinan GKST di Tengah Sensitivitas Isu Publik
Rony Sandhi

RIUH di media sosial belakangan ini isu sensitivitas, publik semakin peka terhadap setiap simbol, apalagi jika itu menyangkut institusi keagamaan.

Kehadiran sejumlah petinggi Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) dalam konferensi pers bersama Jusuf Kalla di Jakarta belum lama ini, disusul beredarnya video dan foto-foto tak luput menjadi perhatian warga jemaat GKST.

Bacaan Lainnya

Reaksi warga jemaat GKST, khususnya di ruang-ruang percakapan digital seperti media sosial, grup WhatsApp, mengalir deras dari sekadar bertanya hingga menyuarakan kegelisahan dan tudingan-tudingan miring.

Situasi ini perlu dibaca dengan jernih. Di satu sisi, setiap individu, termasuk para pendeta, tentu memiliki hak untuk hadir dan menyampaikan pandangan dalam ruang publik.

Namun di sisi lain, posisi mereka sebagai pimpinan gereja tidak bisa dilepaskan begitu saja dari identitas institusional yang melekat yaitu GKST.

Publik jemaat GKST melihat, menilai, dan sering kali menyimpulkan bahwa kehadiran para pemimpin GKST tersebut adalah representasi dari GKST secara keseluruhan.

Di titik inilah sensitivitas menjadi penting. GKST selama ini dikenal sebagai lembaga pelayanan umat, yang perannya sangat vital dalam menjaga nilai-nilai spiritual, sosial, dan perdamaian terutama di wilayah seperti Poso yang memiliki sejarah panjang dalam merawat harmoni pascakonflik.

Karena itu, setiap langkah yang berpotensi menyeret institusi ke dalam pusaran polemik publik patut dipertimbangkan secara matang.

Pertanyaannya bukan sekadar “boleh atau tidak,” melainkan “perlu atau tidak.”?

Dalam konteks isu yang sedang berkembang dan cenderung sensitif, kehadiran tokoh-tokoh gereja dalam ruang klarifikasi yang bersifat politis atau kontroversial bisa memunculkan beragam tafsir dan spekulasi liar.

Bahkan jika tidak segera pernyataan klarifikasi resmi atas nama lembaga, simbol kehadiran para pimpinan GKST itu sendiri bisa dianggap cukup kuat untuk memantik persepsi beragam warga jemaat.

Di sinilah pentingnya sensitivitas atau komunikasi yang terbuka dan menenangkan dari para pemimpin GKST.

Klarifikasi yang jernih kepada jemaat bukan hanya soal meluruskan persepsi, tetapi juga menjaga kepercayaan.

Jemaat berhak mendapatkan penjelasan agar tidak terjebak dalam spekulasi yang berpotensi memperkeruh suasana.

Lebih dari itu, semua pihak perlu menahan diri agar tidak menggiring GKST ke dalam ruang-ruang pro dan kontra yang bukan menjadi panggilan utamanya.

Gereja bukanlah arena tarik-menarik kepentingan, melainkan rumah bagi penguatan iman dan pemulihan sosial.

Masyarakat, khususnya warga GKST dan Poso, tentu tidak ingin kembali diseret pada bayang-bayang masa lalu yang penuh luka.

Energi kolektif hari ini seharusnya diarahkan pada menjaga kedamaian yang telah dibangun dengan susah payah, bukan membuka ruang kegaduhan baru.

Kritik boleh disampaikan, tetapi harus tetap dalam koridor yang menyejukkan.

Begitu pula dengan langkah para pemimpin umat perlu kehati-hatian, bisa lebih menyaring belapis-lapis sebelum melangkah, agar tidak menimbulkan tafsir yang meluas yang berujung pada kegaduhan di ruang diskusi digital dan di ruang-ruang jemaat.

Pentingnya menjaga marwah lembaga keagamaan (GKST) berarti para pemimpin umat juga bisa menjaga ketenangan umatnya, bukan sebaliknya.

 

Oleh : Rony Sandhi – Anggota Jemaat GKST Immanuel Palu.

Pos terkait