PARIMO, KABAR SULTENG – Kader Inti Pemuda Anti Narkoba (KIPAN) Nasional mendesak Pemerintah Daerah Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, segera membuka hasil tes urine Aparatur Sipil Negara (ASN). Keterlambatan pengumuman ini dinilai berpotensi memicu spekulasi publik dan mengikis kepercayaan terhadap integritas birokrasi.
Presidium KIPAN Nasional, Afandi Alang, mengapresiasi langkah awal Pemda dalam pencegahan narkotika. Namun, ia menyayangkan sikap tertutup pemerintah pasca pelaksanaan tes urine.
“Kami mengapresiasi langkah Pemda yang katanya sebagai bentuk komitmen pencegahan Narkoba. Namun, kami mempertanyakan belum diumumkannya hasil tes tersebut, padahal rangkaian kegiatan telah selesai sejak 24 Juli,” ujar Afandi, Rabu (29/7/2026).
Baca juga: Sesumbar Sapu Bersih Narkoba, Pemkab Parimo Belum Beberkan Hasil Tes Urine ASN
Afandi menegaskan, transparansi merupakan pilar utama pertanggungjawaban terhadap publik. Ia menuntut Pemda tidak menjadikan operasi bersih-bersih ini sekadar kegiatan seremonial belaka.
Atas nama KIPAN, Afandi mendesak agar seluruh rangkaian tindak lanjut dilakukan secara objektif tanpa pandang bulu jika terbukti ada aparatur yang terlibat.
“Upaya pemberantasan narkoba tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata. Yang jauh lebih penting adalah keberanian menindaklanjuti hasil pemeriksaan secara terbuka, bertanggung jawab, dan konsisten,” tegasnya.
Afandi memastikan akan terus mengawal kebijakan ini secara ketat. Langkah tersebut ditempuh demi memastikan terciptanya pemerintahan daerah yang bersih, berintegritas, dan benar-benar bebas dari jerat penyalahgunaan narkotika.
Diketahui, pemeriksaan maraton yang menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Poso tersebut telah berakhir pada Jumat, 24 Juli 2026. Namun, hingga kini, Pemda belum merilis hasil pemeriksaan yang menyasar pejabat eselon II, III, IV, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), anggota DPRD, hingga pelajar SLTA.
Baca juga: Pemda Parimo Anggap Lebih Aman jika Barcode Solar Nelayan Dipegang SPBU
Data yang dihimpun menunjukkan temuan mengejutkan. Dalam uji saring Pemda dan BNN menggunakan lebih dari 1.000 alat uji. Puluhan sampel urine aparatur diduga terindikasi mengandung methamphetamine atau sabu-sabu serta golongan obat penenang benzodiazepine.***
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik diĀ sini





