JAKARTA, – Semangat Kartini tak melulu soal buku sejarah. Di tangan para pengusaha perempuan, semangat itu menjelma menjadi kemandirian ekonomi.
Hal ini tecermin dalam bazar “Srikandi Pertiwi” yang digelar BRI melalui program Rumah BUMN, sebuah ajang apresiasi bagi produk unggulan karya perempuan Indonesia.
Di antara deretan stan yang memadati area bazar, sosok Irene Farriha dengan bisnisnya, Cokelatin, sukses mencuri perhatian. Siapa sangka, minuman cokelat artisan yang berawal dari racikan rumahan ini kini sudah melanglang buana hingga ke mancanegara.
Perjalanan Irene dimulai pada 2016. Nama “Cokelatin” sendiri merupakan gabungan unik dari namanya dan sang suami, Nugi. Awalnya, Irene yang bekerja di sebuah Event Organizer (EO) hanya iseng meracik minuman cokelat untuk dibawa ke kantor. Tak disangka, rekan-rekannya ketagihan.
Irene tak main-main soal rasa. Ia hanya menggunakan biji kakao Premium Grade 1. Rahasia keistimewaannya terletak pada penggunaan varietas Javakrioyo asal Jawa Timur.
“Ini varietas kakao langka, jumlahnya hanya ada 5 persen di dunia,” ungkap Irene bangga. Standar kualitas yang ketat ini membawa Cokelatin menembus pasar hotel bintang lima, bersaing ketat dengan merek-merek internasional.
Namun, jalan Irene tak selalu mulus. Sebelum 2020, ia mengaku sebagai pelaku UMKM yang gagap teknologi karena hanya mengandalkan penjualan lewat reseller ibu rumah tangga.
“Dulu saya kurang melek teknologi. Kami belum go online, makanya bisnis sempat terhantam keras saat pandemi COVID-19,” akunya jujur.
Enggan menyerah, Irene bangkit dengan bergabung di Rumah BUMN Jakarta binaan BRI sejak 2018. Di sana, ia didampingi secara total—mulai dari membangun situs resmi, mengoptimalkan Instagram, hingga menguasai e-commerce.
“Dukungannya nyata. Kami tidak cuma diajarkan teori, tapi benar-benar dibimbing dan didengarkan apa yang kami butuhkan,” tambah Irene.
Dukungan BRI menjadi mesin pendorong bagi Cokelatin untuk “naik kelas”. Puncaknya terjadi pada 2022, saat BRI memfasilitasi Cokelatin untuk tampil di Specialty Coffee Expo di Boston, Amerika Serikat.
Momen tersebut menjadi batu loncatan besar. Produk lokal ini berhasil menarik minat pembeli mancanegara dan memulai pengiriman ekspor perdana. Keberhasilan ini tidak hanya mendongkrak omzet, tapi juga membuktikan bahwa cokelat Nusantara punya tempat di panggung dunia.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa Rumah BUMN memang dirancang sebagai wadah kolaboratif untuk mengerek daya saing pelaku usaha.
Hingga saat ini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN dengan lebih dari 18.218 pelatihan di seluruh Indonesia.
“Banyak pelaku usaha yang semula hanya jago kandang di pasar lokal, kini sudah berani jualan secara daring bahkan ekspor. Ini bukti bahwa pendampingan berkelanjutan adalah kunci meningkatkan kapasitas UMKM,” pungkas Akhmad.(Adv)





