Sulitnya Menandingi Anwar Hafid

Musda Demokrat
Anwar Hafid Resmi Terpilih Menjadi Ketua Partai Demokrat Sulteng 2026-2031. Foto: Istimewa

PALU, KABAR SULTENG – Hasil Musyawarah Daerah (Musda) ke-V Partai Demokrat Sulawesi Tengah, Minggu (10/5/2026), sebenarnya mudah ditebak bahkan jauh sebelum dimulai.

Nama Anwar Hafid kembali menjadi pusat gravitasi politik partai berlambang mercy itu. Sejumlah figur alternatif memang sempat muncul dalam bursa pencalonan ketua, mulai dari Abdul Rahman Thaha, Ikbal Basir Khan, hingga Reny Lamadjido. Namun hingga menjelang forum digelar, hampir tak ada yang benar-benar mampu menggeser dominasi Anwar.

Bacaan Lainnya

“Musda Demokrat Sulteng ini mungkin hanya formalitas semata. Hasilnya nanti sudah pasti sesuai prediksi banyak orang, Anwar Hafid akan kembali jadi ketua,” ujar seorang rekan sejawat di luar arena Musda.

Ucapan itu akhirnya terbukti. Tidak ada drama politik berarti. Tidak muncul manuver mengejutkan pada menit akhir. Musda berjalan relatif mulus hingga Anwar kembali duduk sebagai ketua partai untuk periode 2026-2031.

Hal itu senada dengan pernyataan Kepala Badan Pembinaan Organisasi, Kaderisasi dan Keanggotaan (BPOKK) Demokrat, Ossy Dermawan, yang mengapresiasi kondusivitas agenda internal partai tersebut.

“Musda ke-V Partai Demokrat Sulawesi Tengah ini dapat dilaksanakan dengan aman, tertib, dan lancar,” ujar Ossy.

Bagi sebagian kader Demokrat, situasi itu dianggap wajar. Rekam jejak politik Anwar Hafid memang sulit dipisahkan dari kemenangan. Dalam hampir seluruh kontestasi politik yang diikutinya, ia nyaris selalu berhasil keluar sebagai pemenang.

Sempat berkiprah sebagai birokrat di Sulawesi Selatan, karier politik Anwar tumbuh perlahan dari Kabupaten Morowali. Saat daerah itu belum menjadi episentrum industri tambang dan hilirisasi seperti sekarang, ia sudah lebih dulu membangun pengaruh politik di sana. Ia memenangkan pilkada, lalu kembali terpilih untuk periode kedua.

Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, politik Sulawesi Tengah justru bergerak ke arah sebaliknya. Figur petahana maupun elite mapan mulai mudah tergelincir oleh perubahan arus politik.

Pada Pilkada serentak 2020, misalnya, sejumlah petahana tumbang oleh figur baru. Fenomena serupa kembali terlihat pada Pilkada 2024. Di arena legislatif, situasinya juga tak jauh berbeda. Sejumlah mantan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang ikut bertarung turut berguguran.

Nama besar dan pengalaman kekuasaan tak lagi otomatis menjamin kemenangan. Politik lokal bergerak makin cair, cepat berubah, dan sulit ditebak.

Dalam lanskap seperti itulah perjalanan politik Anwar Hafid menjadi tampak berbeda. Ketika banyak elite kesulitan menjaga pengaruhnya, Anwar justru mampu mempertahankan tren kemenangan dari satu kontestasi ke kontestasi lain.

Baca juga: Partai Demokrat Targetkan Dua Kursi DPR, 12 Kursi DPRD Sulteng

Setelah dua periode memimpin Morowali, ia bergerak menuju panggung politik nasional sebagai anggota DPR RI—dan kembali berhasil. Pengaruh politiknya tidak berhenti di level kabupaten, tetapi menjangkau wilayah yang lebih luas di Sulawesi Tengah.

Namun perjalanan Anwar tidak hanya bergerak di arena elektoral. Ia juga berhasil mengonsolidasikan pengaruh di internal partai. Dalam tubuh Demokrat Sulawesi Tengah, Anwar perlahan menjelma menjadi figur sentral yang sulit ditandingi.

Pertama kali didaulat sebagai ketua Demokrat Sulteng periode 2011-2016, Anwar terus mengukuhkan posisinya hingga lima tahun mendatang alias empat periode berturut-turut.

Meski begitu, figur internal Demokrat Sulteng sebenarnya bermunculan dalam dua dekade terakhir. Ada yang berstatus kepala daerah, wakil kepala daerah, hingga legislator. Namun nama-nama itu belum benar-benar mampu membentuk kompetisi yang setara terhadap Anwar Hafid.

Aura kemenangan Anwar bahkan sudah terasa jauh sebelum forum berlangsung. Situasi itu memperlihatkan bagaimana pengaruh politik seorang figur bisa bekerja sebelum proses pemilihan dimulai.

Dominasi yang terlalu mapan dalam politik partai sebenarnya selalu menyisakan pertanyaan. Ketika satu figur terus menang dalam waktu panjang, ruang kompetisi perlahan mengecil. Regenerasi berjalan lebih pelan karena pengaruh tokoh utama telanjur terlalu dominan.

Fenomena semacam ini bukan hanya terjadi di Partai Demokrat Sulawesi Tengah. Di banyak partai politik daerah, organisasi sering kali bergerak mengikuti orbit figur tertentu. Partai menjadi sangat bergantung pada popularitas tokoh yang dianggap paling menjanjikan kemenangan.

Dalam situasi seperti itu, loyalitas politik kerap tampak lebih menonjol dibanding pertukaran gagasan. Kompetisi tidak benar-benar hilang, tetapi berjalan dalam ruang yang semakin sempit.

Tentu, tidak ada yang salah dengan kemenangan berulang selama diperoleh melalui mekanisme demokratis. Tetapi demokrasi internal partai tidak hanya diukur dari lancarnya pemilihan ketua. Ia juga membutuhkan regenerasi, ruang kritik, dan keberanian menghadirkan alternatif kepemimpinan.

Musda Partai Demokrat Sulawesi Tengah akhirnya selesai tanpa kejutan. Namun justru di situlah menariknya.

Di tengah politik yang terus berubah, banyak elite datang dan pergi. Banyak petahana jatuh lebih cepat dari perkiraan. Tetapi hingga hari ini, satu pola belum benar-benar berubah: Anwar Hafid masih tetap sulit ditandingi. (*/Rbt)

Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini

Pos terkait