CASA Naik, Biaya Dana Turun, Laba BRI Tumbuh 13,7 Persen

CASA Naik, Biaya Dana Turun, Laba BRI Tumbuh 13,7 Persen
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, dalam konferensi pers kinerja keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis (30/4/2026).

JAKARTA, – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memperkuat struktur pendanaan sejak awal 2026. Langkah ini ditempuh untuk menekan biaya dana (cost of fund/CoF) sekaligus menjaga fondasi bisnis tetap solid.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyampaikan hal itu dalam konferensi pers kinerja keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI, Kamis (30/4/2026). Sejumlah direksi turut hadir, di antaranya Wakil Direktur Utama Viviana Dyah Ayu, Direktur Network & Retail Funding Aquarius Rudianto, Direktur Finance & Strategy Achmad Royadi, serta Direktur Manajemen Risiko Ety Yuniarti.

Bacaan Lainnya

Hingga akhir Maret 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI tercatat mencapai Rp1.555 triliun atau tumbuh 9,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan ini ditopang peningkatan dana murah atau CASA yang naik 13,2 persen yoy menjadi Rp1.058,6 triliun.

Hery merinci, giro tumbuh 15,6 persen dan tabungan naik 11,5 persen secara tahunan. Ia juga menyoroti capaian baru BRI, di mana untuk pertama kalinya tabungan menembus Rp600 triliun, tepatnya Rp605,8 triliun.

Kenaikan CASA mendorong rasio CASA BRI menjadi 68,07 persen, dari 65,77 persen pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan ini tak lepas dari tingginya transaksi melalui kanal digital seperti BRImo, Qlola by BRI, Business Merchant, dan QRIS BRI.

Struktur pendanaan yang makin kuat berdampak langsung pada penurunan biaya dana. Pada Triwulan I 2026, CoF BRI turun ke level 2,3 persen, dari 3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Strategi penguatan CASA berjalan efektif dan membuat struktur pendanaan lebih efisien. Ini memberi ruang yang lebih longgar bagi margin ke depan,” kata Hery.

Perbaikan di sisi pendanaan ikut mengangkat kinerja keuangan perseroan. Hingga Triwulan I 2026, total aset BRI tumbuh 7,2 persen yoy menjadi Rp2.250 triliun. Sementara kredit dan pembiayaan naik 13,7 persen yoy menjadi Rp1.562 triliun.

Dengan kondisi tersebut, BRI membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp15,5 triliun, meningkat 13,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Hery menegaskan, pertumbuhan ini mencerminkan keseimbangan antara ekspansi kredit dan efisiensi biaya dana. Kredit yang tetap tumbuh menopang pendapatan bunga, sementara perbaikan struktur pendanaan menekan biaya.

“BRI tidak hanya tumbuh, tapi juga menjaga kualitas pertumbuhan itu sendiri,” ujarnya.(Adv)

Pos terkait