PALU, KABAR SULTENG – Wakil Ketua Umum (Waketum) Perguruan Pencak Silat (PPS) Satria Muda Indonesia (SMI), Abdul Karim Aljufri, mendorong para pesilat asal Sulteng dan Sulbar untuk dapat bersaing dan ‘bertarung’ di level internasional pada masa mendatang.
Harapan itu disampaikan Abdul Karim kala mewakili sambutan Ketua Umum PPS SMI, Edhy Prabowo, pada pembukaan kegiatan Training of Trainer (TOT) dan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Nasional PPS SMI di balai riung Hotel Rama Garden, Jalan Tanjung Santigi, Palu, Kamis (12/2/2026).
“Saat ini di mana kebanggaan kita sebagai sebuah perguruan? Harusnya perguruan kita bisa kembali menjadi tempat mencetak atlet-atlet terbaik untuk mewakili Indonesia di kancah internasional. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah kita dan harus dituntaskan, diawali dari TOT dan UKT ini,” kata Abdul Karim.
Namun, untuk menjadi petarung pada kompetisi global, Abdul Karim menyebut dibutuhkan ketekunan personal, kepatuhan terhadap instruksi dewan guru atau pelatih, serta ketaatan pada aturan ketat perguruan, dalam hal ini Satria Muda Indonesia.
“Dewan guru kita, sesepuh perguruan kita, sudah membuat aturan baku sesuai keahlian mereka. Misalnya, kita punya dua sejalan, pancet, kombinasi satu dua, sesuatu yang tidak bisa diubah. Tetapi, tidak bisa kita pungkiri juga ada pemahaman masing-masing atas gerakan yang diajarkan. Oleh karena itu, pengurus pusat SMI menggagas kegiatan ini agar ada kesepahaman dalam bertindak hingga melakukan jurus-jurus,” jelasnya.
Baca juga: Miris! Anak-anak Dusun Bontopangi-Donggala Nekat Seberangi Sungai Berbuaya Demi Bisa Sekolah
Selain memotivasi para kader, eks Wakil Manajer Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) pada Asian Games 2018 itu juga memberi catatan penting terkait capaian prestasi perguruan SMI dalam kompetisi.
“Bertahun-tahun saya mengingatkan, kita besar secara jumlah tetapi kecil dari sisi prestasi. Ketika saya disebut-sebut sebagai juara dunia, itu bukan kebanggaan lagi. Karena atlet dari SMI yang menjadi juara dunia itu saya sendiri dan itu sudah sangat lama. Sementara atlet perempuan dari SMI bernama Sofani terakhir kali menjadi juara dunia pada 2007,” ujarnya.
Impian Abdul Karim agar SMI kembali melahirkan pesilat yang mampu berkompetisi di kejuaraan dunia pencak silat bukan tanpa alasan. Sebelumnya, Abdul Karim pernah menjadi jawara pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat di Jakarta (2000) dan Malaysia (2002).
Kendati demikian, Abdul Karim masih optimistis terhadap perguruan yang telah mengantarkannya dikenal publik secara luas.
“Kebanggaan perguruan kita saat ini adalah para dewan guru, sesepuh, hingga pelatih yang masih setia bergerak melakukan pembinaan bagi anggota SMI. Makanya, pengurus pusat memberi apresiasi tinggi atas kinerja itu. Sebab tanpa dewan guru, sesepuh, dan pelatih, kita tidak berarti apa-apa,” tandasnya.***
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini





