PARIMO, KABAR SULTENG – Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) sedang ringkih. Bumi di sana belum selesai bergoyang pasca gempa berkekuatan M 6,7. Kini, banjir kembali menerjang.
Namun, di tengah status Tanggap Darurat Bencana yang krusial ini, pusat komando pemerintahan daerah itu justru lumpuh.
Bupati dan Wakil Bupati memilih pergi bersamaan ke Gorontalo untuk menghadiri pameran PENAS Petani Nelayan XVII 2026.
Kekosongan kepemimpinan total ini memantik kritik keras dari parlemen lokal.
Wakil Ketua DPRD Parimo, Sayutin Budianto, menyebut kepergian duet pemimpin daerah itu telah memicu defisit kehadiran negara saat rakyatnya sedang bertaruh nyawa.
Baca Juga: LMP Desak Bupati Parimo Bersihkan Personel Satgas yang Integritasnya ‘Compang-Camping’
“Kami meminta Bupati atau Wakil Bupati segera kembali ke daerah. Pimpin langsung mitigasi di lapangan,” ujar Sayutin dalam keterangan tertulisnya, Minggu (21/6/2026).
Menurut Sayutin, absennya kepala daerah membuat yurisdiksi komando Forkopimda kehilangan dirigen.
Birokrasi di tingkat bawah, seperti BPBD, Dinas Sosial, dan Dinas Kesehatan, kini gamang mengambil langkah strategis yang berisiko tinggi tanpa adanya disposisi tertulis.
Walhasil, pencairan Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dan pengerahan alat berat untuk evakuasi warga menjadi terhambat.
Secara regulasi, Sayutin mengingatkan tindakan melawat ke luar daerah secara bersamaan demi acara seremonial menabrak Pasal 65 dan Pasal 76 UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Lebih jauh, merujuk UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, kepala daerah bisa dituduh lalai jika absensinya memicu keterlambatan evakuasi dan distribusi logistik.
DPRD menilai, agenda di Gorontalo seharusnya bisa diwakilkan kepada kepala dinas terkait.
Kehadiran bupati dan wakil bupati di pameran tersebut dinilai telah mencederai empati dan rasa keadilan publik.
Saat ini, keselamatan rakyat adalah prioritas nomor satu yang tidak bisa ditawar dengan agenda kedinasan non-darurat.
Banjir yang melanda tiga desa di Kabupaten Parimo, pada Sabtu malam (20/6/2026) menyebabkan sedikitnya 145 kepala keluarga (KK) terdampak.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parimo mencatat, banjir terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut sekitar pukul 23.00 Wita, mengakibatkan sejumlah sungai meluap dan menggenangi permukiman warga.
“Hujan lebat mengguyur pada pukul 23.00 Wita mengakibatkan sejumlah sungai meluap dan menggenangi permukiman warga,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Parimo, Moh Rivai, Minggu (21/6/2026). (**)
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini





