Kisah Mantri BRI di Kei Besar: Terobos Jalan Rusak hingga Ombak Demi Layani Nasabah

Kisah Mantri BRI di Kei Besar: Terobos Jalan Rusak hingga Ombak Demi Layani Nasabah
Hany Dwiningsih Ubro, Mantri BRI yang bertugas di Unit Elat, Kepulauan Kei Besar, Maluku Tenggara.

KEI BESAR, – Tidak semua wilayah di Indonesia memiliki akses layanan keuangan seperti di kota besar. Di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), keterbatasan transportasi, jarak antardesa yang jauh, hingga kondisi alam kerap menjadi hambatan masyarakat menjangkau layanan perbankan.

Di tengah keterbatasan itu, hadir tenaga pemasar mikro BRI yang menjadi penghubung layanan keuangan dengan masyarakat. Salah satunya Hany Dwiningsih Ubro, Mantri BRI yang bertugas di Unit Elat, Kepulauan Kei Besar, Maluku Tenggara. Ia menjadi sosok perempuan tangguh yang membuka akses ekonomi bagi warga di wilayah kepulauan tersebut.

Bacaan Lainnya

Hany bercerita, kariernya di BRI dimulai pada 2020 setelah lolos rekrutmen sebagai customer service dan ditempatkan di BRI Unit Masrum. Dari posisi itu, ia ingin berkembang dan mencoba tantangan baru sebagai tenaga pemasar.

Perjalanan tersebut tidak mudah. Ia berkali-kali gagal saat mengikuti seleksi internal. Namun, kegagalan tidak membuatnya mundur. Setelah enam kali mencoba, Hany akhirnya lolos pada 2025 dan dipercaya mengemban tugas sebagai Mantri BRI.

Penugasan di Unit Elat langsung menghadirkannya pada tantangan geografis yang tidak ringan. Wilayah kerja tersebut mencakup 115 desa di lima kecamatan dengan kondisi akses jalan yang sebagian besar belum memadai.

“Saya ditempatkan di Unit Elat. Kota Elat di Pulau Kei Besar ini memiliki 115 desa dan lima kecamatan. Beberapa wilayah akses jalannya masih belum bagus, bahkan ada yang sangat tidak layak dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat,” ujar Hany.

Perjalanan menuju desa-desa sering memakan waktu panjang dengan medan berlumpur, berbatu, hingga tanjakan curam. Faktor cuaca juga kerap menjadi ujian tersendiri.

“Pernah kehujanan sampai basah kuyup. Saat menuju wilayah yang harus melewati sekitar 12 desa, kami terhambat jalan rusak dan berlumpur. Hampir menyerah, tapi warga membantu mendorong motor hingga kami bisa melanjutkan perjalanan,” kisahnya.

Tidak hanya melalui jalur darat, Hany juga harus menempuh perjalanan laut. Sejumlah wilayah hanya bisa dijangkau menggunakan speedboat kecil dengan kondisi cuaca yang tidak menentu.

“Pernah naik speedboat kecil, ombaknya besar dan mendung. Sempat khawatir, tapi saya percaya dengan pengemudi. Alhamdulillah kami sampai dengan selamat,” katanya.

Sebagai Mantri BRI, Hany tidak hanya menawarkan produk perbankan, tetapi juga mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan keuangan. Ia memperkenalkan berbagai layanan, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kupedes, tabungan Simpedes, deposito, asuransi, hingga penggunaan QRIS bagi pelaku usaha.

“Nasabah di sini mayoritas petani, nelayan, dan pedagang. Produk yang paling dibutuhkan biasanya KUR dan Kupedes untuk mengembangkan usaha. Selain itu, kami juga mengedukasi masyarakat agar mulai menabung,” jelasnya.

Ia mengaku bangga bisa membantu masyarakat meningkatkan usaha dan kesejahteraan keluarga melalui akses pembiayaan.

“Saya bangga bisa dipercaya sebagai Mantri BRI. Apalagi ketika melihat nasabah bisa mengembangkan usaha atau menyekolahkan anaknya. Penyaluran pinjaman ini membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saya merasa menjadi jembatan akses keuangan yang ikut menggerakkan roda ekonomi,” tutup Hany.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan dedikasi para mantri di lapangan menjadi bukti nyata kontribusi perempuan dalam mendorong ekonomi kerakyatan. Menurutnya, mantri tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga bertindak sebagai financial advisor yang mendampingi nasabah sejak awal hingga usaha berkembang.

Saat ini BRI memiliki sekitar 26 ribu mantri, dengan 28,2 persen di antaranya merupakan perempuan.

“Kisah ini menegaskan perempuan tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. BRI percaya kesetaraan kesempatan menjadi kunci menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” tegas Akhmad.(Adv)

Pos terkait