Catatan: Andi Sadam/Redaksi Kabarsulteng.id
PERISTIWA demi peristiwa pohon tumbang di Ibukota Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, seperti tak pernah benar-benar usai. Dari tahun ke tahun, warga Parigi kerap diresahkan kejadian serupa, yaitu pohon tumbang.
Dalam rentang 2017 hingga 2026, rangkaian kejadian ini membentuk pola yang sangat mengkhawatirkan.
Dalam berbagai peristiwa, pohon-pohon itu roboh bukan hanya menimpa rumah warga, tetapi juga merusak kendaraan, bahkan merenggut nyawa pengguna jalan.
Hal menarik, pohon-pohon tumbang tersebut bukan pohon yang tumbuh liar, melainkan tanaman peneduh yang sengaja ditanam oleh pemerintah setempat, namun tanpa sentuhan perawatan.
Sepanjang jalan di wilayah Ibukota Kabupaten Parimo, pohon-pohon trembesi terlihat tumbuh semrawut layaknya tumbuhan liar di hutan. Pohonnya condong tak beraturan, mengancam keselamatan pengguna jalan hingga bangunan sekitar.
Ranting-rantingnya menjulur hingga membungkus jaringan-jaringan listrik PLN. Tidak hanya sekali dahan pohon trembesi itu memutus jaringan listrik.
Memang, pohon pelindung di sepanjang jalan kota bukan semata hiasan hijau untuk mempercantik pemandangan. Keberadaannya memiliki banyak fungsi, termasuk memberi kenyamanan serta menjaga kesehatan lingkungan perkotaan.
Ironinya, upaya menciptakan kesejukan dan estetika kota oleh pemerintah Kabupaten Parimo tidak dibarengi konsep mitigasi terhadap risiko maupun dampak buruk yang dapat ditimbulkan. Faktanya, cukup banyak korban akibat pohon pelindung tersebut.
Data yang diperoleh Kabar Sulteng, berdasarkan arsip dan jejak digital, menyebutkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia di Kabupaten Parimo akibat pohon pelindung.
Pada 24 Agustus 2017, pasangan suami istri, Ahayu dan Ida, mengalami kecelakaan setelah sepeda motor yang mereka kendarai menabrak pohon trembesi yang roboh di Desa Bambalemo Ranomaisi. Peristiwa itu terjadi dini hari saat keduanya hendak ke pasar untuk berdagang.
Sang suami mengalami luka parah, sedangkan istrinya meninggal dunia. Keduanya merupakan warga Desa Petapa, Kecamatan Parigi Tengah. Hingga kini, tidak terdengar kabar mengenai adanya kompensasi dari pemerintah atas insiden tersebut.
Pada 16 Juli 2020, seorang ibu hamil bersama anaknya tertimpa pohon trembesi di Desa Bambalemo Ranomaisi. Kedua korban yang mengendarai sepeda motor itu dilarikan ke rumah sakit setempat.
Pada 29 Oktober 2020, di Kelurahan Loji, Kecamatan Parigi, sebuah pohon pelindung tumbang menimpa bangunan semi permanen yang digunakan warga sebagai tempat servis barang elektronik. Selain merusak bangunan, pohon tersebut juga memutus jaringan listrik PLN.
Pada 1 Agustus 2021, sebuah tiang penerangan jalan umum miring setelah dihantam pohon tumbang di jalur dua Jalan Pakabata, Desa Bambalemo. Tidak ada korban dalam insiden itu.
Pada 24 Oktober 2022, sebuah pohon pelindung ambruk di kawasan jalur dua Desa Bambalemo. Peristiwa itu sempat mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Beruntung tidak ada korban jiwa.
Pada 30 April 2023, satu pohon trembesi di samping Kantor Bupati Parimo roboh. Selain merusak pagar kantor, pohon tersebut juga menimpa satu unit mobil minibus yang sedang melintas.
Pada September 2025, tercatat dua peristiwa pohon tumbang. Pada 5 September, insiden terjadi di sekitar Pasar Sentral Parigi. Pohon itu menimpa lapak dagangan warga, sementara rantingnya menghantam bagian depan ruko di sekitar lokasi. Peristiwa tersebut sempat melumpuhkan akses lalu lintas selama beberapa jam. Pada 23 September, sebuah pohon pelindung kembali tumbang di Jalan Pendidikan, Kelurahan Kampal. Satu unit rumah rusak ringan akibat atap tertimpa pohon. Akar pohon terangkat dan membuat lubang di tepi jalan, serta memutus jaringan listrik.
Pada 11 April 2026, sebuah pohon menimpa Julita (41) yang membonceng Ehzan (4) dan Safa (16) dengan sepeda motor. Dalam peristiwa itu, Ehzan meninggal dunia sesaat setelah kejadian. Julita meninggal pada 13 April saat menjalani perawatan medis di RSUD Undata Palu. Sementara Safa sempat menjalani perawatan di RSUD Anuntaloko Parigi.
Perlu untuk diketahui bahwa catatan ini hanya sekelumit peristiwa pohon pelindung tumbang di Kabupaten Parimo. Diyakini masih banyak peristiwa-peristiwa yang belum tercatat, dan layak diketahui publik.
Saat ini Pemkab Parimo telah mengevaluasi dan menangani persoalan tersebut. Banyak pohon yang terpantau rawan roboh telah ditumbangkan.
Bupati Parimo, Erwin Burase, berjanji akan menebang seluruh pohon pelindung yang dinilai berisiko. Hanya saja dalam eksekusinya dilakukan bertahap, dengan alasan keterbatasan anggaran, armada hingga tenaga pekerjanya.
Pemkab Parimo juga berjanji akan mengganti jenis pohon pelindung saat ini. Akan disulam dengan tanaman yang dianggap lebih aman, tidak merusak infrastruktur, serta tidak membahayakan pengguna jalan.
Semoga langkah evaluasi pemerintah terhadap pohon-pohon perindang ini terlaksana sesuai rencana. Dan semoga penerapan mitigasi menjadi bagian dari realisasi jangka panjang, sehingga tujuan utama dapat tercapai, yakni jalan tetap aman, teduh, lancar, dan indah.
Semoga pula insiden yang menewaskan Ehzan dan Julita menjadi peristiwa terakhir dalam daftar korban akibat pohon tumbang di Parimo. Semoga.(Rds)





