Bukan Pertambangan, Ternyata Ini ‘Mesin Utama’ Turunnya Pengangguran di Sulteng

Bukan Pertambangan, Ternyata Ini ‘Mesin Utama’ Turunnya Pengangguran di Sulteng
Ilustrasi Kondisi Ketenagakerjaan di Sulteng 2023-2025.

PALU, KABAR SULTENG — Sektor pertambangan kerap dibanggakan sebagai penopang utama perekonomian Sulawesi Tengah (Sulteng), lantaran diklaim berkontribusi besar atas investasi dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Bahkan dianggap sebagai ‘ladang besar’ bagi banyak pencari kerja.

Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng menganalisis bahwa ‘mesin utama’ turunnya angka pengangguran di jantung Sulawesi ini selama tiga tahun terakhir, justru lebih banyak ditopang oleh sektor lain yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat: pertanian, perikanan, dan usaha berbasis komoditas rakyat.

Bacaan Lainnya

Lembaga statistik tersebut mencatat, pada periode Juni-Agustus 2025 terjadi peningkatan produksi padi dan jagung di sejumlah daerah seperti Banggai, Morowali, Poso, Donggala, Tolitoli, Tojo Una-Una, Sigi, Banggai Laut, dan Morowali Utara.

Perkebunan cengkeh di Toli-Toli, kakao dan durian di Parigi Moutong dan Sigi, serta nilam di Banggai Kepulauan dan Tojo Una-Una juga kembali menggeliat.

Kondisi itu tercermin dalam klaster Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), di mana BPS menemukan adanya tren penurunan dari 2,95 persen pada Agustus 2023, menjadi 2,94 persen pada Agustus 2024, hingga 2,92 persen pada Agustus 2025.

Penurunan ini kemudian memunculkan pertanyaan lanjutan: faktor apa yang dianggap berperan langsung terhadap turunnya angka pengangguran tersebut?

BPS menjelaskan, salah satu jawabannya berada pada padatnya aktivitas kerja di sektor pertanian. Saat musim panen tiba, banyak warga ikut terlibat mulai dari memetik, memanen, menjemur, hingga menyortir hasil kebun.

Sebagian bekerja sebagai buruh harian, sebagian lainnya membantu sebagai pekerja keluarga tanpa upah tetap. Seluruh aktivitas ini tetap tercatat sebagai penduduk bekerja dalam metodologi statistik ketenagakerjaan.

Baca juga: KHAS Palu Hotel Hadirkan Program Berkah Ramadhan, Buka Puasa All You Can Eat dan Promo Kamar Spesial

Selain pertanian, penyerapan tenaga kerja juga terjadi di sektor perikanan dan peternakan. Permintaan ikan dan telur meningkat seiring berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah kabupaten dan kota.

Industri pengolahan berbasis komoditas rakyat seperti kopra dan minyak nilam di Banggai, Banggai Kepulauan, Donggala, Tolitoli, Buol, Parigi Moutong, dan Tojo Una-Una juga kembali bergairah seiring kenaikan harga, sehingga membuka pekerjaan tambahan bagi masyarakat.

Faktor lain yang turut menekan angka pengangguran adalah pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di bidang administrasi pemerintahan, pendidikan, dan kesehatan di seluruh wilayah Sulteng.

Meski demikian, BPS Sulteng dalam publikasinya yang terbit pada 13 Februari 2026 itu juga mengingatkan bahwa besarnya persentase penduduk yang bekerja belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan pembangunan ketenagakerjaan.

Kualitas pekerjaan, seperti tingkat pendidikan pekerja, kecukupan upah, struktur umur, serta sektor ekonomi tempat tenaga kerja terserap menjadi faktor penting yang turut menentukan keberlanjutan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, sektor pertambangan yang kerap disebut sebagai motor ekonomi daerah tidak tercatat sebagai kontributor utama dalam penyerapan tenaga kerja di Sulteng.

Bagi banyak warga Sulteng, fakta ini terasa dekat dengan keseharian mereka. Banyak yang bekerja di sawah, kebun, atau melaut karena itulah peluang kerja yang paling nyata tersedia.

Turunnya angka pengangguran memang patut diapresiasi, tetapi tantangan ke depan bukan sekadar menjaga angka itu tetap rendah, melainkan memastikan pekerjaan yang ada benar-benar stabil, memberi penghasilan layak, dan tidak hilang begitu musim panen atau harga komoditas berganti.***

Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini

Pos terkait