PALU, KABAR SULTENG – Akademisi Ekonomi Universitas Tadulako, Prof. Mohamad Ahlis Djirimu, Ph.D, menilai keputusan lembaga pemeringkat kredit internasional Moody’s menurunkan peringkat memiliki dampak signifikan terhadap iklim investasi, baik di tingkat global maupun nasional.
Moody’s, bersama Standard & Poor’s serta Fitch Ratings, merupakan lembaga pemeringkat kredit yang reputasinya diakui secara internasional dan menjadi rujukan utama investor dalam mengambil keputusan investasi.
Menurut Ahlis, penilaian credit rating secara langsung memengaruhi kepercayaan investor, khususnya pada sektor investasi keuangan. Ketika peringkat kredit suatu negara menurun, risiko investasi dinilai meningkat sehingga berdampak pada biaya pembiayaan.
“Semakin rendah peringkat kredit suatu negara, maka cost of fund yang harus disediakan pemerintah akan semakin besar. Ini berkaitan langsung dengan tingkat kepercayaan investor,” jelas Ahlis.
Ia menegaskan bahwa dunia investasi sangat menjunjung tinggi kepercayaan. Prinsip trust does not knock twice menjadi pegangan utama investor global. Sekali kepercayaan menurun, upaya memulihkannya membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Dalam konteks tersebut, Ahlis menilai penurunan peringkat oleh Moody’s lebih mencerminkan persoalan tata kelola keuangan negara, bukan semata kondisi ekonomi jangka pendek.
“Rating itu berbicara tentang kredibilitas fiskal dan konsistensi kebijakan. Investor melihat bagaimana negara mengelola utang, defisit, serta komitmen jangka panjangnya,” ujarnya.
Terkait dampaknya terhadap Sulawesi Tengah, Ahlis menilai pengaruhnya relatif terbatas. Struktur investasi di daerah ini masih didominasi sektor sumber daya alam (SDA), yang menawarkan margin keuntungan tinggi bagi investor asing.
“Investor di sektor SDA tetap masuk karena margin keuntungannya besar. Namun yang paling terdampak adalah financial investment, terutama investasi portofolio seperti obligasi pemerintah,” jelasnya.
Ia menambahkan, menurunnya kepercayaan investor asing terhadap instrumen keuangan negara berpotensi mengurangi aliran investasi ke sektor non-ekstraktif di daerah. Kondisi ini juga dapat memengaruhi investasi lokal yang sangat bergantung pada stabilitas fiskal serta pembiayaan pemerintah.
“Ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk memperkuat tata kelola keuangan dan menjaga kredibilitas fiskal, agar investasi lokal tidak ikut terdampak dalam jangka panjang,” pungkas Ahlis.***





