PALU, KABAR SULTENG – Sunardi Katili dan Wiwin Matindas kini berebut kursi Direktur Eksekutif WALHI Sulawesi Tengah periode 2025–2029. Pemaparan visi-misi kedua kandidat berlangsung di kantor WALHI Sulteng pada Kamis, 20 November 2025, lalu.
Pemaparan gagasan pertama disampaikan Sunardi Katili (50) yang saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif WALHI Sulteng periode 2021–2025.
Aktivis lingkungan yang sudah berkecimpung sejak 2006 itu mengusung visi keadilan ekologi dan perlindungan hak asasi manusia.
Dalam tiga poin misinya, Sunardi menegaskan penguatan advokasi berbasis aliansi dan anggota, pembangunan ekonomi mandiri organisasi, serta perhatian khusus terhadap isu perempuan.
Sementara itu, Wiwin Matindas (42) hadir sebagai penantang. Wiwin mengusung visi menjadikan WALHI Sulteng sebagai poros gerakan rakyat dan rumah gerakan yang tangguh dan kritis untuk memperjuangkan keadilan ekologis.
Aktivis perempuan yang sejak 2008 konsisten memperjuangkan keadilan gender dan ekologis tersebut menitikberatkan pembangunan organisasi baik dari aspek internal maupun eksternal, termasuk penguatan jaringan advokasi rakyat (buruh, tani, nelayan, perempuan, dan masyarakat adat).
Di bidang ekonomi, Wiwin menekankan pentingnya memperluas fundraising organisasi dengan mengidentifikasi peluang pendanaan dan kerja sama di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.
Keduanya sama-sama menempatkan isu deforestasi, degradasi lingkungan akibat tambang, sawit, energi, masyarakat adat, sengketa agraria, dan perempuan sebagai prioritas perjuangan.
Dalam Pemilihan Direktur Eksekutif Daerah WALHI ke-IX, berbagai organisasi jejaring menyampaikan pandangan soal kriteria pemimpin WALHI Sulteng.
Ketua Solidaritas Perempuan Palu, Fitri S. Pairunan, menilai WALHI harus dipimpin tokoh yang mampu mengadvokasi lingkungan dan berpihak pada kelompok marginal, terutama perempuan.
Dari Yayasan KOMIU, Gifvent Lasimpo menekankan pentingnya advokasi berbasis fakta dan data.
Dari Yayasan Tanah Merah (YTM), Richard menyatakan bahwa pemimpin WALHI Sulteng harus memiliki analisis kritis terhadap akar persoalan lingkungan di Sulawesi Tengah, tidak sebatas menolak industri, tetapi mampu membangun narasi advokasi bersama dan menawarkan alternatif politik serta ekonomi berbasis kerakyatan.
Direktur Yayasan Merah Putih, Amran Tambaru, menambahkan kriteria lain seperti rekam jejak teruji, pengalaman pengorganisasian rakyat, kapasitas manajerial, pemahaman isu demokrasi, HAM, dan lingkungan hidup, hubungan dengan organisasi rakyat, serta jejaring nasional dan internasional termasuk relasi yang baik dengan jurnalis.
Koordinator JATAM Sulteng, Taufik, menyampaikan satu kriteria penting saja: “Demokratis, siap memimpin dan siap dipimpin.”
Gelaran empat tahunan bertema “Memperkuat Kedaulatan Rakyat atas Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dari Dampak Industri Ekstraktif di Sulawesi Tengah” itu dihadiri puluhan anggota WALHI, jejaring NGO, serta Dewan Daerah WALHI.
Penentuan siapa yang akan terpilih sebagai Direktur Eksekutif WALHI Sulteng akan dilakukan melalui voting anggota di Kabupaten Tojo Una-Una pada 27 November 2025.***
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini





