BOYOLALI, – Desa Banyuanyar di Kabupaten Boyolali terus bertransformasi dari desa dengan keterbatasan menjadi desa percontohan berbasis kolaborasi dan keberlanjutan. Kini, masyarakat mengenalnya sebagai Banyuanyar Green Smart Village, sebuah konsep desa pintar yang ramah lingkungan dan bertumpu pada kekuatan warga.
Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, menegaskan bahwa perubahan ini tidak terjadi secara instan. Melalui model pembangunan pentahelix, masyarakat bergotong royong membangun desa secara bertahap.
“Dengan moto kami, rumah besar kami, Banyuanyar Green Smart Village, perjalanan ini tidak mudah. Namun, kami mulai membangun kampung UMKM secara bertahap,” ujarnya.
Banyuanyar Green Smart Village menjadikan pengembangan kampung UMKM sebagai fondasi utama dengan konsep One Kampung One Product (OKOP). Setiap kampung memiliki identitas dan produk unggulan, seperti kampung kopi, kampung susu, kampung madu, kampung ekonomi kreatif, hingga kampung biofarmaka. Seluruh proses, mulai dari bahan baku hingga pengolahan, sepenuhnya dikelola masyarakat.
Konsep ini semakin kuat dengan kehadiran BUMDes Kampus Kopi Banyuanyar yang mengelola berbagai unit usaha berbasis masyarakat. Direktur BUMDes, Musli, menyebut sektor wisata sebagai keunggulan desa karena mengusung konsep wisata edukasi berbasis komunitas.
“Kami melihat Banyuanyar sangat layak dikembangkan sebagai desa wisata edukasi berbasis masyarakat,” jelasnya.
Semangat kemandirian juga terlihat di Kampung Susu. Ketua Klaster Kampung Susu, Pramono, menjelaskan bahwa usaha ternak sapi perah yang sebelumnya hanya tradisi kini berkembang menjadi bisnis bernilai tambah. Warga memproduksi berbagai olahan seperti susu pasteurisasi, yoghurt, hingga pie susu di “Omah Susu Koboy”.
“Dengan produk olahan sendiri, nilai ekonomi susu meningkat dan penghasilan peternak ikut bertambah dibandingkan jika dijual ke pengepul,” katanya.
Hal serupa terjadi di Kedai Barendo, klaster kopi yang lahir dari inisiatif petani. Di tengah hamparan pohon kopi, kedai ini menjadi simbol kemandirian petani dalam mengolah dan memasarkan produk mereka sendiri.
Sementara itu, di Klaster Biofarmaka, kelompok ibu-ibu mengolah tanaman obat keluarga menjadi produk pangan dan minuman modern. Inovasi ini bermula dari Omah Toga dan terus berkembang melalui pameran serta kunjungan wisata desa.
Perkembangan Banyuanyar semakin pesat dengan dukungan BRI melalui program Desa BRILian. BRI tidak hanya mendampingi UMKM, tetapi juga meningkatkan kapasitas SDM, memperkuat branding dan packaging, mendorong digitalisasi, serta mempromosikan produk melalui bazar dan expo.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa program Desa BRILian berfokus pada empat pilar utama, yaitu penguatan BUMDes dan koperasi, digitalisasi, sustainability, serta inovasi. Hingga saat ini, lebih dari 5.200 desa di Indonesia telah mendapatkan pendampingan untuk memperkuat ekonomi desa.
“Kisah Banyuanyar membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari desa. Kolaborasi, inovasi, dan semangat masyarakat menjadikan Banyuanyar Green Smart Village sebagai inspirasi nyata pembangunan desa berbasis kemandirian dan keberlanjutan,” tegas Dhanny. (Adv)





