Kebakaran Timbulkan Korban, PT SLNC-HYNC Abaikan Keselamatan Kerja di Morowali

Kebakaran Timbulkan Korban, PT SLNC-HYNC Abaikan Keselamatan Kerja di Morowali
Kecelakaan kerja di area PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) dan PT Huayou Nickel Cobalt (HYNC) di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), pada 12 Oktober 2025. (Ist)

PALU, KABAR SULTENG – Kecelakaan kerja di area PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) dan PT Huayou Nickel Cobalt (HYNC) di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), pada 12 Oktober 2025, disorot sejumlah pihak.

Dalam rilis yang diterima redaksi kabarsulteng.id, Ketua Pengurus Unit Kerja (PUK) Federasi Serikat Pekerja Industri Merdeka (FSPIM) PT HYNC, Tesar Anggrian, menyebut bahwa PT SLNC maupun PT HYNC di Morowali selama ini tak memperhatikan prosedur keselamatan kerja.

Bacaan Lainnya

“Salah satu penyebab teknis adalah tidak ada fireblanket saat pengelasan,’ kata Tesar.

Merespons kecelakaan kerja berulang yang terjadi di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Jordy Goral selaku Ketua Umum FSPIM menyerukan agar kedua entitas bisnis asal Tiongkok itu menghentikan operasionalnya.

“Produksi sebaiknya dihentikan sementara. Kedua PT itu (SLNC dan HYNC) mesti dimoratorium dulu di Morowali, sebab membahayakan para pekerja,” terang Jordi.

Baca juga: Di Mediasi Pemda Morowali, Ini Janji PT Vale Usai Didemo Masyaraka Bungku Timur

Jordi juga menambahkan, selama proses tersebut pihak perusahaan wajib bertanggung jawab atas hak-hak pekerja, termasuk pembayaran upah pekerja.

Sementara itu, Kepala Divisi Kampanye Yayasan Tanah Merdeka (YTM), Mohammad Azis, menyesalkan kebijakan perusahaan-perusahaan tenant yang beraktivitas di kawasan eksplorasi nikel di Morowali yang selalu abai ketika terjadi kecelakaan kerja.

“Saat nyawa sudah meninggal pun perusahaan tetap beroperasi. Tidak hanya di HYNC, pada bulan Maret lalu saat insiden jebolnya tanggul di IMIP 8 perusahaan tetap jalan meski tiga nyawa melayang,” terangnya.

Sebelumnya diberitakan, tiga pekerja menjalani perawatan intesif di klinik IMIP lantaran menderita luka bakar. Dua di antaranya adalah Tenaga Kerja Asing (TKA) dan satu Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Diduga, kebakaran dipicu percikan api saat pekerjaan pengelasan tangki fiberglass. Api kemudian tersulut hingga membakar hampir separuh dari menara gas buang pabrik asam baru di area Huayou tahap dua tersebut.

Sekadar informasi, PT HYNC adalah perusahaan join venture antara Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd., China Molybdenum Co., Ltd., serta Tshingshan Holding Group sejak Oktober 2018.

Di IMIP, PT HYNC memproduksi nikel kobalt, produk yang kemudian menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik dengan kapasitas produksi sebesar 70.000 ton mixedhydroxideprecipitate (MHP) per tahun.

Adapun PT SLNC merupakan perusahaan patungan antara PT Merdeka Battery Materials (MBMA) dan Huayou Cobalt yang menargetkan hingga 90.000 ton MHP per tahun mulai 2026.***

 

Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini

Pos terkait