PARIMO, KABAR SULTENG – Ketidakpastian pasokan listrik di Sulawesi Tengah mulai mengancam iklim investasi industri pengolahan durian. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) khawatir pemadaman bergilir yang berlangsung selama berbulan-bulan membuat investor menunda ekspansi, bahkan mengalihkan rencana investasinya ke daerah lain.
Ketua KADIN Kabupaten Parimo, Faradiba Zaenong, menyatakan telah menerima keluhan dari puluhan investor dan pelaku usaha, terutama yang bergerak di sektor pengolahan durian. Gangguan pasokan listrik disebut telah menghambat operasional mesin industri dan meningkatkan risiko kerugian, khususnya pada produk durian beku.
Masalah ini dinilai semakin serius karena Sulawesi Tengah tengah bersiap mengembangkan industri pengolahan durian untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor, terutama Tiongkok.
Baca juga: Pemkab Parimo Lakukan Penyegaran Struktur, 16 Jabatan Diduduki Plt
Pada 2027, pembangunan gudang pengolahan dan fasilitas produksi durian beku diproyeksikan meningkat. Investasi tersebut berpotensi membuka lapangan kerja, memperluas kemitraan dengan petani, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.
Namun, rencana tersebut terancam terganjal jika kepastian pasokan energi tidak segera dibenahi.
“Bagaimana mungkin investor bersedia membangun fasilitas pengolahan bernilai miliaran rupiah jika kepastian pasokan listrik belum terjamin,” ucap Faradiba, baru-baru ini.
Menurut dia, industri durian beku sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan. Mesin pembekuan, cold storage, serta fasilitas produksi membutuhkan energi tanpa gangguan untuk menjaga kualitas produk.
Pemadaman listrik bukan hanya menghambat proses produksi. Gangguan tersebut juga berpotensi merusak produk yang disimpan dalam suhu tertentu, mengganggu kontinuitas produksi, hingga mengancam pemenuhan kontrak ekspor.
Kekhawatiran itu muncul menjelang periode panen durian di Sulteng yang diperkirakan berlangsung mulai Desember 2026 hingga September 2027.
Pada periode tersebut, daerah ini berpeluang memperkuat rantai industri durian, mulai dari petani, pengepul, rumah pengemasan, industri pengolahan, hingga eksportir.
Kadin menilai ketidakpastian energi dapat merusak momentum tersebut. Investor yang sudah beroperasi berpotensi menahan ekspansi, sedangkan calon investor bisa mempertimbangkan daerah lain yang memiliki infrastruktur kelistrikan lebih andal.
Karena itu, Kadin Parimo mendesak PT PLN segera memberikan kepastian penyelesaian persoalan pasokan listrik, termasuk target waktu penanganannya.
Kadin juga meminta PLN menyiapkan layanan kelistrikan yang andal bagi kawasan industri, gudang pengolahan durian, fasilitas penyimpanan dingin, dan unit produksi berorientasi ekspor.
Selain itu, PLN diminta membuka dialog resmi bersama Kadin, pemerintah daerah, investor, dan pelaku industri untuk membahas solusi jangka pendek maupun jangka panjang.
“Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Kami meminta kepastian energi sebagai kebutuhan mendasar bagi keberlangsungan usaha dan investasi,” ujarnya.
Faradiba mengingatkan, persoalan kelistrikan tidak semestinya hanya dipandang sebagai gangguan pelayanan kepada pelanggan rumah tangga. Keandalan listrik juga berkaitan langsung dengan keberlangsungan industri dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Baca juga: “Plt Terlama di Indonesia”, Kelakar Bupati Parimo Saat Lantik Sunarti jadi Kadis Dikbud
Jika tidak segera ditangani, Sulteng berisiko kehilangan peluang investasi di tengah besarnya potensi sumber daya durian dan terbukanya pasar ekspor.
Dampaknya bukan hanya dirasakan perusahaan. Petani, tenaga kerja, pelaku UMKM, serta masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada rantai industri durian juga berpotensi terkena imbas.
Faradiba meminta PLN segera menghadirkan solusi konkret agar ketidakpastian pasokan listrik tidak menjadi penghambat investasi dan industrialisasi di Sulteng, secara khusus di Kabupaten Parimo.***
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini





