Parimo Tawarkan 35 Ribu Hektare Lahan untuk Investasi Peternakan Sapi Perah

Parimo Tawarkan 35 Ribu Hektare Lahan untuk Investasi Peternakan Sapi Perah
Plt Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Parimo, I Wayan Gede Purna. (Foto: IST)

PARIMO, KABAR SULTENG – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, menawarkan lahan seluas 35.157 hektare untuk menarik investasi peternakan sapi perah terintegrasi. Proyek yang menyasar empat kecamatan di wilayah selatan itu masuk enam besar Investment Project to Offer (IPRO) setelah melewati tahap kurasi.

Pemerintah daerah membidik investasi tersebut untuk memperkuat produksi susu lokal sekaligus menangkap peluang pasar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bacaan Lainnya

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Parimo, I Wayan Gede Purna, mengatakan proyek itu membuka peluang bagi pemerintah daerah untuk mempresentasikan rencana pengembangan peternakan kepada calon investor.

Baca juga: Pemkab Parimo Akui Kemampuan Keuangan Daerah 2026 Masih Jauh dari Ideal

“Pada tahap awal, pengembangan direncanakan melalui pembangunan peternakan percontohan seluas kurang lebih empat hektare di antara lokasi yang kami usulkan,” kata Wayan saat dihubungi, Rabu, 14 Oktober 2026.

Empat kecamatan yang diusulkan sebagai lokasi pengembangan adalah Parigi Selatan, Torue, Balinggi, dan Sausu. Kawasan tersebut direncanakan menjadi pusat peternakan sapi perah terintegrasi, mulai dari sektor produksi hingga pengolahan dan distribusi hasil.

Menurut Wayan, pembangunan peternakan percontohan menjadi langkah awal sebelum proyek diperluas ke skala yang lebih besar. Namun, pelaksanaannya tetap bergantung pada kelayakan lahan dan pemenuhan persyaratan teknis.

Pemkab Parimo juga menyiapkan lokasi alternatif di Kecamatan Lambunu dengan luas sekitar 16.000 hektare. Lahan cadangan itu akan dipertimbangkan apabila lokasi yang diusulkan di wilayah selatan tidak memenuhi persyaratan pengembangan.

Selain kesiapan lahan, pemerintah daerah perlu memastikan tersedianya pasar yang mampu menyerap produksi susu. Program MBG menjadi salah satu peluang yang diperhitungkan dalam rencana investasi tersebut.

Wayan menyebut Parimo saat ini memiliki 18 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi bagian dari pelaksanaan program MBG. Keberadaan unit-unit tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam memetakan potensi kebutuhan produk susu di daerah.

Meski demikian, jumlah SPPG belum dengan sendirinya menjamin penyerapan hasil peternakan. Pemerintah daerah masih perlu menghitung kebutuhan susu, kapasitas produksi, serta mekanisme distribusi agar pasokan dan permintaan dapat berjalan seimbang.

Kepastian pasar menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan investasi. Tanpa perhitungan kebutuhan yang memadai dan skema penyerapan yang jelas, potensi lahan yang luas belum tentu berbanding lurus dengan kelayakan usaha.

Baca juga: Bupati Parimo Evaluasi Papan Digital di Sekolah, Keamanan dan Internet Jadi Kendala

Pemkab Parimo berharap penawaran melalui IPRO dapat menarik investor untuk merealisasikan peternakan sapi perah terintegrasi. Jika terwujud, proyek ini diharapkan memperkuat rantai pasok susu, mendukung pemenuhan gizi masyarakat, serta membuka peluang usaha di sektor peternakan.

Namun, realisasi investasi masih bergantung pada minat investor, kelayakan lokasi, kesiapan teknis, dan kepastian pasar bagi produk yang dihasilkan.***

 

Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini

Pos terkait