Akademisi Ingatkan Bahaya dan Pelanggaran Prinsip Bernegara di Balik Maraknya PETI Sulteng

Akademisi Ingatkan Bahaya dan Pelanggaran Prinsip Bernegara di Balik Maraknya PETI Sulteng
Akademisi Universitas Tadulako (Untad), Prof. Nur Sangadji. (Ist)

Berdasarkan data lapangan, aktivitas PETI tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Kabupaten Parigi Moutong, Buol, hingga Kota Palu. Di ibu kota provinsi, kawasan Poboya dan Vatutela disebut sebagai titik paling rawan karena keduanya berada di jalur aliran sungai yang bermuara langsung ke Teluk Palu.

Melihat kondisi tersebut, Prof. Nur Sangadji mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum bertindak tegas namun tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan dalam menangani persoalan PETI.

Bacaan Lainnya

“Penertiban harus dilakukan. Mulai dari pendekatan persuasif hingga penindakan jika memang diperlukan,” pungkasnya.

Sorotan terhadap bahaya PETI kembali menguat setelah kecelakaan maut terjadi di kawasan tambang ilegal Poboya. Seorang sopir truk pengangkut material tambang dilaporkan tewas dalam insiden yang terjadi pada Kamis (25/12/2025).

Truk yang dikemudikan UK, warga Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, diduga mengalami rem blong saat melintas di jalur menurun sekitar pukul 03.00 Wita. Kendaraan melaju tak terkendali sebelum akhirnya terjun ke bawah dan ringsek parah.

Warga bersama rekan sesama penambang sempat mengevakuasi korban dan membawanya ke Rumah Sakit Sindhu Trisno Palu. Namun, nyawa UK tidak tertolong. Pihak medis menyatakan korban meninggal dunia akibat luka berat yang dialaminya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait langkah penanganan maupun penertiban pascakecelakaan tersebut. Insiden ini semakin memperkuat peringatan akademisi mengenai bahaya PETI serta pelanggaran prinsip bernegara yang ditimbulkannya jika dibiarkan terus berlangsung.***

 

Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini

Pos terkait