Gerebek PETI di Ampibabo, Satgas PHL Dilempari Batu, Ekskavator Disabotase

Gerebek PETI di Ampibabo, Satgas PHL Dilempari Batu, Ekskavator Disabotase
Penertiban dan investigasi lokasi Peti Desa Alo'o, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng, Senin (25/5/2026). (F. Andi Sadam/Kabarsulteng.id)

PARIMO, KABAR SULTENG – Operasi penertiban Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Alo’o, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) diwarnai perlawanan dari warga penambang. Petugas gabungan dihujani batu oleh pekerja tambang liar saat hendak menyita alat berat, dan fasilitas pendukung penambangan lainnya, Senin (25/5/2026).

Ketegangan pecah setelah Satuan Tugas Penegakkan Hukum Lingkungan (Satgas PHL) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Parimo merangsek ke titik pengerukan PETI wilayah Ampibabo itu.

Bacaan Lainnya

Tim gabungan ini diperkuat oleh personel TNI, Satpol PP, Polisi Kehutanan, serta didukung Bidang Tata Ruang Dinas Pekerjaan Umum. Operasi dipimpin Pelaksana Tugas Kepala Satuan Satpol PP dan Damkar Parigi Moutong, Ismet Ibrahim.

Baca juga: Menakar Polemik RKAB dan Masalah Lingkungan di Pesisir Palu-Donggala

Di lokasi, suasana riuh. Puluhan warga sedang mendulang emas secara manual. Satu dari dua unit ekskavator raksasa sedang aktif mengeruk tanah. Menyadari kedatangan petugas, operator alat berat tersebut langsung melarikan diri.

Saat tim melakukan pengumpulan barang bukti, warga penambang mulai melawan. Lemparan batu bertubi-tubi memaksa petugas bersiaga penuh.

Sebelum situasi memanas, operator alat berat lebih dulu melarikan diri ke dalam hutan. Petugas bergerak cepat. Satu kunci ekskavator berhasil direbut. Namun, evakuasi macet total.

Siasat sabotase dilakukan. Para pelaku mencopot komponen vital mesin agar ekskavator lumpuh di tempat.

Pantauan Kabarsulteng.id di lapangan, aktivitas ilegal ini berskala masif. Selain dua unit di lokasi Peti, sekitar 500 meter dari lokasi utama, juga ditemukan dua unit ekskavator lain yang sengaja disembunyikan.

Sumber terpercaya menyebutkan sedikitnya ada enam unit alat berat yang sehari-hari mengoyak kawasan tersebut.

Ditemukan juga tumpukan puluhan jerigen bekas, serta 13 jerigen berisi solar siap pakai. Belasan jarigel berisi BBM itu ditemukan bersama satu unit alat berat di lokasi.

Selain itu, ditemukan pula lima buah talang jumbo, dinamo listrik generator besar, alkon, toolbox, dan sejumlah peralatan penunjang lainnya.

Bukan sekadar penambangan liar biasa, pengerukan ini merambah kawasan hutan produksi. Sekretaris Satgas PHL DLH Parigi Moutong, Muhammad Idrus, menegaskan kasus ini masuk dalam ranah pidana serius.

“Hasil operasi penertiban PETI di wilayah Ampibabo ini akan dilanjutkan ke proses penyelidikan. Kami berkoordinasi dengan Polres Parimo. Karena lokasi tambang berada di kawasan hutan produksi, laporan juga diteruskan ke Balai Gakkum LHK Wilayah Sulawesi Tengah di Palu,” kata Idrus kepada Kabarsulteng, Senin.

Di lapangan, jejak logistik pertambangan terlihat jelas. Petugas menyita satu unit mesin genset, dua unit mesin alkon, selang, dan karpet penangkap emas.

Kini Satgas membidik aktor intelektual di balik pasokan logistik tersebut. Fokus utama diarahkan pada rantai distribusi BBM. Idrus bilang, sepanjang tahun 2026, operasi maraton akan terus digulirkan.

Dia menyatakan dalam waktu dekat akan memanggil para camat, kepala desa, hingga pengelola SPBU setempat. “Aktivitas tambang ilegal ini ditopang oleh pasokan BBM ilegal. Kita harus putus rantai pasokannya dari hulu,” tegas Idrus.(AS)

 

Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini

Pos terkait