Disebut Capai Puluhan Juta, Kades Tombi Luruskan Nominal Pungutan Tambang Ilegal: Cuma Rp15 Juta

Disebut Capai Puluhan Juta, Kades Tombi Luruskan Nominal Pungutan Tambang Ilegal: Cuma Rp15 Juta
Kades Tombi, Baso. (F. Ist)
PARIMO, KABAR SULTENG – Praktik pungutan terstruktur diduga kuat terjadi di kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Desa Tombi, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong. Setiap pemodal yang menggunakan alat berat jenis ekskavator diwajibkan menyetor ‘jatah kontribusi’ hingga puluhan juta rupiah sebagai syarat mutlak untuk beroperasi.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, mekanisme pungutan tersebut telah diatur secara sistematis. Aturan main ini mencakup besaran setoran, pihak pengumpul, hitungan bagi hasil, hingga pengkondisian lahan galian yang telah dikapling.
Seorang sumber yang tidak disebut namanya mengungkapkan, seluruh kewajiban finansial tersebut harus diselesaikan di muka sebelum alat berat maupun talang masuk ke lokasi tambang ilegal.
“Jadi itu sudah menjadi kesepakatan. Sebelum memasukkan alat berat, wajib terlebih dahulu memenuhi kesepakatan tersebut,” ujar sumber yang mengaku pernah ditawari untuk memasok alat berat ke lokasi PETI Tombi.
Menanggapi hal ini, Kepala Desa Tombi, Baso, membenarkan adanya transaksi dana dalam aktivitas Peti di wilayahnya. Namun, ia membantah keterlibatan pemerintah desa (Pemdes).
Baso bahkan meluruskan nominal pungutan yang beredar. Katanya, uang tersebut merupakan hasil kesepakatan antara pemodal dan pemilik lahan.
“Tidak ada sampai Rp40 juta. Yang ada itu Rp15 juta dan bukan dihitung per alat, tetapi berdasarkan talang. Adapun yang mereka sepakati dengan lembaga itu merupakan hasil musyawarah, bukan dari Pemdes,” ucap Baso saat dikonfirmasi via telepon, Minggu (5/7/2026).
Baso berdalih, pungutan belasan juta rupiah itu difasilitasi oleh sebuah lembaga masyarakat desa. Dana yang terkumpul diklaim akan dialokasikan untuk mendukung penyediaan fasilitas air bersih bagi warga setempat.
Di sisi lain, aktivitas tambang ilegal ini mulai memicu dampak lingkungan serius. Masyarakat mengeluhkan kondisi sungai yang kini keruh dan mengalami pendangkalan hebat.
Terkait kerusakan lingkungan tersebut, Baso menyatakan pencemaran tidak murni bersumber dari wilayahnya. Dia bilang, aktivitas serupa di desa tetangga turut andil memperparah kondisi ekosistem sungai.
“Bukan cuma Tombi, ada juga dari wilayah Desa Alo’o. Orang taunya hanya Tombi,” ungkap Baso.***

 

Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini

Pos terkait