Kala Pemuda Berbudaya Sulteng Merespons Isu Tambang Lewat Tarian

Kala Pemuda Berbudaya Sulteng Merespons Isu Tambang Lewat Tarian
Tari topoteba bulu kreasi Komunitas Pemuda Berbudaya Sulteng dalam Salah Satu Acara Pementasan. Foto: Dok. KPB Sulteng-Banua Tari Kabasara

PALU, KABAR SULTENG – Komunitas Pemuda Berbudaya (KPB) Sulawesi Tengah (Sulteng) dipastikan kembali menyemarakkan panggung Seren Taun 2026.

Namun, penampilan Pemuda Berbudaya tahun ini bukan sekadar unjuk kebolehan estetika. Mereka bakal membawakan koreografi yang bersinggungan dengan isu tambang, sebuah isu yang hangat menjadi perbincangan publik di Kota Palu dalam beberapa tahun terakhir.

Bacaan Lainnya

Hal itu diungkapkan oleh Dewan Pembina Komunitas Pemuda Berbudaya Sulteng, Nurhalifah Abdillah, kepada kabarsulteng.id di Palu, Rabu (3/6/2026).

“Kami siapkan lima karya (tarian). Dua tarian ciptaan maestro Sulteng, almarhum Hasan Bahasyuan, yakni tari motaro dan tari peulucinde. Satunya lagi adalah tari topoteba bulu, dan dua lainnya masih kami rahasiakan untuk kebutuhan kompetisi,” ungkap Ivha, sapaan akrabnya.

Ivha menjelaskan, khusus tari topoteba bulu, karya seni ini sejatinya diciptakan karena berangkat dari kegelisahan akan aktivitas pertambangan dengan pendekatan kedaerahan. Ia juga menegaskan bahwa tarian yang dibawakan nanti merupakan kreasi baru dengan konsep yang berbeda.

“Lewat tari topoteba bulu ini, kami mau bercerita tentang orang-orang yang menambang di bukit. Topoteba artinya orang memotong, sedangkan bulu artinya bukit dalam bahasa Kaili,” ujarnya.

Baca juga: Komisi B DPRD Palu Soroti Minimnya Pengembangan Ikon Pariwisata Kota

Menurut Ivha, tarian tersebut juga secara tidak langsung dipengaruhi oleh kultur lama dan lingkungannya. Hal ini terjadi karena ia terlahir dari keluarga berlatar subetnik Kaili Tara, yang sebagian bermukim di wilayah lingkar tambang, yakni Kelurahan Tanamodindi, Mantikulore.

Atas dasar itulah, Ivha menilai kondisi tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan koreografi tarinya. Menurutnya, jauh sebelum maraknya perusahaan tambang masuk, para penambang tradisional terdahulu yang hanya mengandalkan palu belencong tetap bisa mencari nafkah tanpa merusak lingkungan secara ekstrem.

“Tari topoteba bulu ini pada dasarnya bukan untuk mengkritik atau mendukung, apalagi berpihak pada orang-orang tertentu. Ini lebih kepada bagaimana menegaskan ke publik bahwa realitas pekerjaan di kota ini bukan cuma sektor formal, nelayan, atau bertani, tetapi juga sebagai penambang. Fakta inilah yang sedang kami gambarkan,” terang pendiri Banua Tari Kabasara ini.

Tari topoteba bulu ini, lanjut Ivha, salah satunya memang disiapkan untuk memperkuat identitas budaya di panggung luar Sulteng.

“Selain kami dari perwakilan Sulteng, akan banyak performer dari provinsi lain. Ada juga tamu undangan dari negara lain seperti Spanyol dan Kanada yang memang memiliki tugas melakukan penelitian terkait budaya dan adat lokal di Indonesia,” jelasnya.

Sekadar informasi, Seren Taun 2026 merupakan upacara adat masyarakat Sunda yang rutin digelar saban tahun. Adapun bagi KPB Sulteng, dalam kurun enam tahun terakhir, ini adalah kali keempat mereka ditunjuk sebagai salah satu penyaji karya tari mewakili Sulteng. (*/Rbt)

Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini

Pos terkait