BANDUNG, – Berangkat dari ketertarikan mengembangkan kuliner berbasis tepung aci, brand kuliner Tercabaikan tumbuh menjadi salah satu usaha makanan lokal di Bandung.
Usaha kuliner Tercabaikan Bandung menghadirkan berbagai menu seperti baso aci, cimol bojot, cireng kuah, mie kocok, kupat tahu, mie ayam, hingga cilok.
Melalui pengembangan cita rasa dan inovasi produk, Tercabaikan Bandung menghadirkan kuliner tradisional dengan sentuhan modern agar tetap relevan dengan selera pasar.
Produk Tercabaikan dikenal memiliki cita rasa kaya bumbu dengan beragam pilihan topping dan isian.
Inovasi terus dilakukan untuk menjaga daya tarik, seperti menghadirkan kupat tahu dengan sambal geprek atau chili oil, serta baso aci dengan pilihan kuah keju, seblak, hingga soto.
Pemilik usaha Tercabaikan, Inggra DP, mengungkapkan bahwa ide memulai usaha muncul setelah melihat tingginya minat masyarakat terhadap kuliner baso aci saat berkunjung ke Garut.
Dari pengalaman tersebut, ia mencoba membuat versinya sendiri di rumah hingga berkembang menjadi usaha seperti saat ini.
“Usaha ini berawal dari keputusan saya berhenti dari pekerjaan sebelumnya. Ide membuat baso aci muncul saat saya berkunjung ke Garut dan melihat sebuah toko yang sangat ramai hingga pembeli rela mengantre sejak subuh. Dari situ saya penasaran, lalu mencoba membuat sendiri di rumah dan menjadikannya oleh-oleh untuk keluarga,” ujarnya.
Respons positif dari keluarga dan lingkungan sekitar mendorong usaha ini berkembang secara bertahap.
Pada momen syukuran pernikahannya tahun 2017, Inggra juga membagikan baso aci kepada keluarga dan tetangga. Dari sana, pesanan pre-order mulai berdatangan dan menjadi titik awal berkembangnya Tercabaikan.
Dalam perjalanannya, Inggra menghadapi berbagai tantangan, terutama di tahap awal saat ia menjalankan seluruh proses usaha sendiri, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga pemasaran.
Untuk memperluas jangkauan pasar, ia memanfaatkan berbagai kanal digital seperti website, marketplace, media sosial, WhatsApp Business, dan layanan pesan antar.
Seiring perkembangan usaha, Inggra terus meningkatkan kapasitas bisnis melalui berbagai pelatihan, salah satunya melalui platform LinkUMKM BRI. Ia mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan di Rumah BUMN Bandung.
“Saya pertama kali mengenal LinkUMKM BRI sekitar tahun 2020 saat mengikuti pelatihan di Rumah BUMN. Program ini sangat bermanfaat karena menyediakan pelatihan gratis sesuai kebutuhan pelaku usaha, bahkan hingga topik kekinian seperti kecerdasan buatan,” jelasnya.
Hingga akhir 2025, LinkUMKM telah dimanfaatkan oleh 14,98 juta pelaku UMKM sebagai sarana pendampingan usaha secara daring, mulai dari peningkatan kapasitas hingga penguatan akses pasar.
Platform ini menyediakan enam fitur utama, yaitu UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register NIB, serta didukung 750 modul pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menegaskan bahwa LinkUMKM BRI dirancang sebagai ekosistem pembelajaran untuk membantu pelaku UMKM memperkuat kapasitas usaha secara berkelanjutan.
“Melalui LinkUMKM, BRI mendorong pelaku UMKM meningkatkan kapasitas usaha melalui pelatihan yang relevan dengan kebutuhan bisnis saat ini. Ekosistem ini juga membuka peluang memperluas jejaring dan menangkap pasar di era digital. Kami berharap semakin banyak UMKM naik kelas dan berkontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujarnya.(Adv)





