PALU, KABAR SULTENG – Kondisi terkini bangunan Situs Cagar Budaya Makam Karanjalembah di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terlihat memprihatinkan. Beberapa bagian lantai terlihat pecah, lapisan cat pada pilar penyangga atap juga sudah mulai terkelupas.
Selain kerusakan fisik, pada bagian dalam makam juga belum tersedia papan informasi resmi mengenai ketokohan maupun silsilah pejuang Sigi tersebut.
Kondisi itu terekam saat kabarsulteng.id, Rabu (20/5/2026), menelusuri langsung dua jejak sejarah Sigi di masa lampau, yakni Megalitikum Vatunonju dan Makam Karanjalembah.
Juru Pelihara Situs, Ifan, mengatakan bangunan makam Karanjalembah telah beberapa kali mengalami kerusakan dan perbaikan, termasuk akibat bencana alam yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
“Waktu bencana 28 September 2018 lalu, bangunan makam ini rusak. Pada tahun 2021, perbaikannya hanya pada tiang penyangga dan atap yang menutupi makam,” ungkap Ifan.
Menurut dia, kondisi makam saat ini sebenarnya masih jauh lebih baik dibandingkan saat awal pemindahan kerangka Karanjalembah dari Sukabumi, Jawa Barat, ke Watunonju, yang merupakan kampung kelahirannya.
“Saat dipindahkan ke sini, bangunannya masih pondok kecil begitu. Sekitar tahun 2011 baru ada pembangunan yang lebih bagus,” ujarnya.
Baca juga: Ketika Tambang Emas “Dekati” Situs Megalitikum Watunonju
Pemindahan kerangka Karanjalembah dari Cisaat, Sukabumi, ke Watunonju pada tahun 2007 diketahui difasilitasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dengan anggaran sekitar Rp250 juta.
Ifan menambahkan, pada tahun 2014 bangunan makam kembali terdampak angin puting beliung hingga menyebabkan sebagian konstruksi ambruk.
Karanjalembah (bergelar Toi Dompo) dikenal sebagai tokoh berpengaruh dari Kerajaan Sigi yang menentang kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Sikap perlawanannya membuat ia ditangkap dan diasingkan ke Sukabumi hingga wafat pada tahun 1917.
Kendati kondisi situs terlihat memprihatinkan, Ifan menyebut animo masyarakat untuk berkunjung ke lokasi bersejarah tersebut masih cukup tinggi, terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Ia berharap ada penambahan fasilitas informasi resmi mengenai sejarah dan silsilah Karanjalembah agar pengunjung lebih mudah memahami nilai historis situs tersebut.
“Setiap minggu pasti ada yang berkunjung ke sini. Hanya saja di momen tertentu ada kunjungan berkelompok seperti pelajar dan mahasiswa. Saya sudah pernah usulkan supaya ada semacam papan informasi mengenai silsilah Karanjalembah, supaya publik lebih tahu banyak,” tutupnya (*/Rbt)
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini





