Setahun BERANI CERDAS, Aristan Soroti Kerentanan Regulasi dan Fiskal

Setahun BERANI CERDAS, Aristan Soroti Kerentanan Regulasi dan Fiskal
Anggota DPRD Sulteng, Aristan Menyoroti Dua Kerentanan Atas Program BERANI CERDAS yang Diusung Gubernur Sulteng Anwar Hafid-Wakil Gubernur Reny Lamadjido. Foto: Dok. Pribadi Aristan.

PALU, KABAR SULTENG – Anggota DPRD Sulteng, Aristan, menyampaikan catatan penting atas program BERANI CERDAS, satu dari “9 Program BERANI” yang telah berjalan selama setahun pemerintahan Gubernur Sulteng Anwar Hafid dan Wakil Gubernur Reny Lamadjido.

Aristan dalam keterangan resmi di media sosial pribadinya, Kamis (26/2/2026), menyebut satu tahun pelaksanaan program BERANI CERDAS menjadi tonggak penting bagi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng dalam memperluas akses pendidikan tinggi. Dengan realisasi anggaran mencapai Rp84 miliar, program ini telah memberikan bantuan pendidikan kepada lebih dari 23.000 mahasiswa di berbagai kabupaten/kota.

Bacaan Lainnya

BERANI CERDAS tidak hanya menyasar bantuan biaya kuliah, tetapi juga merintis inisiatif strategis “Satu Desa Satu Dokter” sebagai upaya jangka panjang pemerataan tenaga medis di wilayah terpencil Sulawesi Tengah.

Secara regulatif, lanjut Aristan, pendidikan tinggi merupakan kewenangan pemerintah pusat. Namun, Pemprov Sulteng memanfaatkan ruang diskresi melalui skema bantuan sosial (hibah) untuk melakukan intervensi pembangunan sumber daya manusia (SDM) berbasis daerah.

“Saat ini, payung hukum program masih berbentuk Peraturan Gubernur (Pergub). Landasan tersebut relatif rentan secara politis karena berpotensi berubah seiring pergantian kepemimpinan daerah. Transformasi ke dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) dinilai penting untuk menjamin keberlanjutan program dalam jangka panjang,” kata Aristan.

Baca Juga: Paripurna DPRD Sulteng Tetapkan Pimpinan Fraksi PKB dan Tambahan Anggota Banggar

Legislator daerah pemilihan Kota Palu itu menyebut dari sisi dampak, BERANI CERDAS berkontribusi pada peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi di Sulawesi Tengah. Bantuan pendidikan ini juga meringankan beban ekonomi keluarga, terutama dari kelompok berpenghasilan rendah.

Menurut Aristan, program ini berfungsi sebagai jaring pengaman sosial, memastikan mahasiswa tidak putus kuliah akibat keterbatasan biaya. Dalam konteks pembangunan daerah, investasi pendidikan tinggi diharapkan menciptakan efek domino berupa peningkatan kualitas tenaga kerja lokal dan daya saing daerah.

“Meski menunjukkan capaian signifikan, program ini menghadapi tekanan kapasitas fiskal daerah. Alokasi anggaran yang besar berpotensi menimbulkan ketimpangan dengan prioritas pembangunan lain, seperti infrastruktur desa dan penanganan stunting,” ujarnya.

Selain itu, sambung Aristan, evaluasi terhadap akurasi verifikasi data penerima bantuan masih menjadi pekerjaan rumah. Mekanisme link and match antara jurusan mahasiswa dan kebutuhan industri lokal juga perlu diperkuat agar lulusan benar-benar terserap di pasar kerja Sulteng.

Oleh karena itu, anggota Fraksi NasDem itu mendorong adanya penguatan transparansi data penerima manfaat dan sistem monitoring hasil. Pemerintah daerah juga diharap menggandeng sektor swasta melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) guna berbagi beban pembiayaan.

“Dengan perbaikan tata kelola dan penguatan regulasi, BERANI CERDAS berpotensi menjadi model intervensi pendidikan daerah yang progresif. Investasi ini bukan sekadar bantuan biaya kuliah, melainkan strategi jangka panjang membangun generasi unggul Sulawesi Tengah di tengah tantangan fiskal yang tidak ringan,” pungkasnya. (*/Rbt)

Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini

Pos terkait