Kritik tajam juga datang dari Dedi Askary, Anggota Dewan Nasional WALHI dan mantan Deputy Direktur WALHI Sulteng. Dalam opininya berjudul “Mengurai Serakahnomics di Parigi Moutong: Krisis Kepercayaan dan Tumpulnya Penegakan Hukum PETI”, ia menyoroti dugaan kolusi senyap yang melibatkan tiga pilar penting di daerah tersebut.
Dedi menyebut kolaborasi itu sebagai “Trias Collusion”, yakni kerja sama tidak sehat antara aparatur kehutanan, penegak hukum, dan elite politik-birokrasi.
Menurut Dedi, Polhut Dishut Sulteng dan Gakkumhut Sulawesi Wilayah II yang seharusnya menjadi benteng perlindungan hutan, justru terkesan enggan menindak aktivitas ilegal seperti illegal logging dan PETI.
“Dalam logika Serakahnomics, pembiaran adalah bentuk investasi yang menghasilkan keuntungan tidak sah,” tegasnya.
Polri, lanjut Dedi, memegang peran sentral dalam proses penyidikan. Namun, lambannya penanganan sejumlah kasus besar membuat publik makin curiga bahwa hukum telah berubah menjadi komoditas.
“Pergeseran dari paradigma keadilan restoratif ke ekonomi transaksional adalah ciri khas korupsi sistemik,” ujarnya.
Dedi juga menyoroti dugaan keterlibatan birokrasi dan sebagian anggota legislatif dalam memberikan legitimasi informal melalui perizinan bermasalah atau sikap permisif terhadap praktik perusakan lingkungan.
“Mereka gagal menjadi representasi rakyat dan pengawal keberlanjutan ekologi untuk generasi mendatang,” katanya.
Dedi memperingatkan bahwa dampak praktik Serakahnomics bersifat luas dan jangka panjang. Degradasi hutan dan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) mengancam keanekaragaman hayati serta daya dukung lingkungan di Parigi Moutong. Masyarakat lokal yang menggantungkan hidup pada sumber daya alam menjadi pihak paling terdampak, sementara para pelaku besar disebut tetap bebas beroperasi.
Pembiaran yang terjadi berulang membuat kepercayaan publik terhadap aparat dan institusi negara semakin terkikis.
“Hukum kehilangan wibawanya dan direduksi menjadi alat tawar-menawar belaka. Inilah kerusakan paling parah bagi tatanan sosial,” tutup Dedi.***
Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini





