Ketua KADIN Parimo Dorong Hasil Nyata Ekspor Komoditas Desa di Forum BAPPEDA

Ketua KADIN Parimo Dorong Hasil Nyata Ekspor Komoditas Desa di Forum BAPPEDA
Ketua KADIN Parimo, Faradiba Zaenong, dalam forum koordinasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulawesi Tengah di Auditorium Kantor Bupati Parimo, Rabu (1/4/2026).

PARIMO, KABAR SULTENG – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) menargetkan perputaran dana dari sektor ekspor durian ke pasar Tiongkok mencapai Rp3 triliun pada tahun ini.

Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan target tahun sebelumnya yang berada di kisaran Rp1 triliun.

Bacaan Lainnya

Ketua KADIN Parimo, Faradiba Zaenong, menyatakan bahwa percepatan kesejahteraan masyarakat saat ini telah bergeser dari sekadar pembahasan potensi menuju pembuktian hasil nyata di lapangan.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua KADIN Parimo dalam forum koordinasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sulawesi Tengah di Auditorium Kantor Bupati Parimo, Rabu (1/4/2026).

Baca juga: Musrenbang RKPD 2027 Parimo: Terungkap Satpol PP Belum Kirim Usulan

“Hari ini kita tidak lagi bicara potensi, kita bicara hasil. Parimo sudah menembus pasar ekspor durian dunia,” ujar Faradiba di hadapan jajaran BAPPEDA se-Sulteng dan pelaku usaha.

Data menunjukkan Sulteng telah mengekspor sekitar 40.000 ton durian ke pasar internasional pada tahun lalu.

Kekuatan produksi ini didukung oleh lahan seluas 4.000 hektare dengan lebih dari 400.000 pohon produktif serta operasional 30 unit packing house.

Faradiba menekankan bahwa dampak ekonomi dari komoditas ini langsung dirasakan oleh masyarakat akar rumput.

Melalui visi ‘1 Rumah 1 Pengusaha’, KADIN berupaya mentransformasi pola pikir masyarakat desa menjadi pelaku usaha mandiri.

“Uang ini tidak berhenti di perusahaan, tapi langsung mengalir ke petani dan tenaga kerja lokal. Inilah ekonomi yang benar-benar hidup di desa,” katanya.

Meski menunjukkan tren positif, Faradiba memberikan catatan kritis terkait kontribusi sektor ini terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dinilai belum optimal.

Menurutnya, hambatan utama terletak pada ketiadaan regulasi daerah yang mengatur tata niaga secara terstruktur.

“Bukan karena tidak ada potensi, tapi karena regulasi belum hadir untuk mengikat dan mengarahkan,” tegasnya.

Kegiatan ini dihadiri Kepala BAPPEDA Sulteng, Kepala Dinas Pendidikan Sulteng, perwakilan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulteng, serta para petani durian sebagai bukti keberhasilan tata kelola komoditas berbasis masyarakat.***

 

Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini

Pos terkait