Udara Palu Masuk Kategori Tidak Sehat, Ini Beberapa Faktor Penyebabnya

Udara Palu Masuk Kategori Tidak Sehat, Ini Beberapa Faktor Penyebabnya
Kualitas udara di Kota Palu terus memburuk hingga masuk kategori sangat tidak sehat pada Senin (12/10/2026). (Foto: Arul/kabarsulteng.id)

PALU, KABAR SULTENG – Kualitas udara di Kota Palu terus memburuk hingga masuk kategori sangat tidak sehat pada Senin (12/10/2026).

Konsentrasi polutan PM2.5 mencapai 179 mikrogram per meter kubik (µg/m³), di tengah kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kondisi kemarau yang kering.

Bacaan Lainnya

Data pengukuran Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri-BMKG mencatat, konsentrasi PM10 mencapai 174 µg/m³ atau masuk kategori tidak sehat. Sementara PM2.5 mencapai 179 µg/m³ dengan kategori sangat tidak sehat. Adapun konsentrasi PM1 tercatat sebesar 176 µg/m³.

“Memburuknya kualitas udara di Palu dipengaruhi kiriman asap karhutla dari sejumlah wilayah, pergerakan angin, serta kondisi cuaca yang minim hujan,” jelas Kepala SPAG Lore Lindu Bariri BMKG, Asep Firman Ilahi.

Baca juga: Udara Palu Makin Buruk, JATAM Sulteng Desak Pemerintah Bertindak

Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi memburuknya kualitas udara di Kota Palu dan masuk kategori tidak sehat, antara lain:

Kiriman Asap Karhutla di Sulawesi Tengah

Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 milik BMKG, sebaran kabut asap akibat karhutla meluas di wilayah Sulawesi Tengah. Titik panas (hotspot) paling banyak terdeteksi di Kabupaten Morowali, Morowali Utara, Poso, dan Tojo Una-Una.

Pergerakan Asap Jarak Jauh

Asap yang menyelimuti Palu tidak hanya berasal dari wilayah Sulawesi Tengah. Pergerakan massa udara dan arah angin dominan dari timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara turut membawa polusi asap lintas pulau dari Pulau Seram, Papua Selatan, dan wilayah selatan Papua Nugini ke arah barat.

Cuaca Kemarau dan Minimnya Hujan

Minimnya curah hujan dan tingginya jumlah hari tanpa hujan (HTH) membuat partikel debu halus, aerosol, dan emisi polutan bertahan lebih lama di atmosfer Kota Palu. Tanpa hujan yang cukup, partikel-partikel tersebut tidak mudah tersapu secara alami sehingga terus menumpuk di udara.

Pembakaran Sampah dan Pembukaan Lahan

Aktivitas pembakaran sampah rumah tangga dan pembukaan lahan di kawasan kering juga berpotensi menambah polusi. Asap dan debu dari aktivitas tersebut dapat memperpekat kabut yang menyelimuti kota.

BMKG memprediksi kabut asap masih berpotensi meningkat pada 13–14 Oktober 2026 akibat pergerakan asap dari arah timur.

Untuk mengurangi risiko paparan polutan, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan. Jika harus beraktivitas di luar rumah, warga disarankan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti respirator N95.***

 

Simak update berita menarik lainnya, ikuti saluran WhatsApp Official klik di sini

Pos terkait