Festival Danau Poso 2023 Tidak Lagi Dikelola Dispar Provinsi

Festival Danau Poso 2023 Tidak Lagi Dikelola Dispar Provinsi
Danau Poso. Foto: Instagram/@ricky_jalanjalan

Kabarsulteng.id, Palu – Perhelatan tahunan Festival Danau Poso (FDP) 2023 tidak lagi dilaksanakan dan dikelola Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).

FDP seyogyanya dilaksanakan 10 hingga 13 Oktober 2023 mendatang sudah menjadi gawean dari Dinas Pariwisata Kabupaten Poso.

Kepala Dispar Sulteng, Diah Agustiningsih Entoh dihubungi Kabar Sulteng, Selasa (12/2023) mengatakan, FDP tidk lagi dikelola oleh Dispar Provinsi Sulteng dan langsung dikelola Pemda Poso.

Baca juga: Total X Cafe Palu Buka Loker Barista dan Chef, Syaratnya Tak Suka Bergosip dan Hafal Pancasila

“FDP adalah event daerah, kalau tahun lalu kami kelola, karena kami lagi upaya keras untuk rebranding Citra Poso dan Danau Poso sabagai salah satu destinasi unggulan Sulteng,” ujar Diah.

Lanjutnya, apalagi tahun lalu baru selesai pandemic Covid-19, sehingga perlu kerja untuk kelola event seperti FDP yang merupakan event tertua di Sulteng yang menjadi sebuah atraksi untuk menarik kunjungan dalam pemulihan sektor Parekraf.

“Setelah dilaksanakan tahun lalu dan berhasil, kami dorong masuk dalam agenda Kemenparekraf, yaitu, Karisma Event Nusantara 2023. Untuk Festival Danau Poso 2023 akan dikelola Pemda Poso melalui Dispar Kabupaten Poso,” pungkasnya.

Baca juga: Miliki Hutang Rp 3 Miliar, Kekayaan Kepala BI Sulteng Capai Rp 1 Miliar

Diah menambahkan, walaupun FDP 2023 Dispar Kabupaten Poso sebagai pelaksananya, namun event tersebut tetap masuk dalam kalender agenda Dispar Provinsi, seperti halnya event-event daerah lain.

“Kami tetap mendukung semua event yang ada di daerah untuk promosinya,” tambahnya.

Sebelumnya, Festival Danau Poso (FDP) ke 22 tahun 2022, dilaksanakan oleh Dispar Provinsi Sulteng berkolaborasi dengan Dispar Kabupaten Poso.

Festival kebanggaan tahunan di Sulteng itu dimeriahkan  dengan berbagai kegiatan seperti pengenalan pariwisata dan kuliner, pertunjukan kolaborasi musik lokal dan tarian daerah, workhshop budaya, penampilan teatrikal serta pemecahan rekor muri membakar 7000 inuyu (nasi bambu).***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *