Tradisi Pembuatan Kain dari Kulit Kayu di Sulteng Sudah Ada Sejak Era Prasejarah

Baju adat dari bahan serat kayu yang sudah ada sejak era Prasejarah. Foto: Angel/kabarsulteng.id
Baju adat dari bahan serat kayu yang sudah ada sejak era Prasejarah. Foto: Angel/kabarsulteng.id

Palu, Kabarsulteng.id – Sulawesi Tengah tidak hanya terkenal dengan pemandangan alamnya yang memanjakan mata.

Namun juga, tradisi khas Sulteng yang masih terjaga hingga kini menjadi primadona para traveling atau wisatawan untuk datang berkunjung.

Salah satunya tradisi yang sudah ada sejak era Prasejarah atau zaman Neolitikum dan masih terjaga dengan baik sampai saat ini ialah teknik pembuatan kain dari kulit kayu.

Baca juga: Taman Budaya Pahlawan Kesenian Nasional Hasan M Bahasyuan Diresmikan

Proses pembuatan kain kulit kayu dimulai dengan pemilihan kayu yang sesuai untuk diolah.

Biasanya digunakan kayu jenis tertentu yang memiliki serat yang kuat dan fleksibel.

Plt Kepala Seksi Pelestarian dan Pengembangan Dinas Kebudayaan Sulteng, Rim menjelaskan, kain dari kulit kayu merupakan salah satu jenis kain tradisional yang sudah sangat tua.

Baca juga: Berdiri Sejak 1917, Toko Nadoly Bakal Dijadikan Cagar Budaya Palu

Karena diperkirakan, keberadaan kain serta proses pembuatan tradisional ini telah dikenal manusia sejak zaman prasejarah.

“Sampai sekarang ini tradisi pembuatan kain tradisional Sulawesi Tengah, seperti kain kulit kayu masih dilakukan hingga kini oleh masyarakat Desa Pandere, Kecamatan Gumbasa dan masyarakat Kecamatan Kulawi di Kabupaten Sigi,” jelasnya kepada Kabarsulteng.id Kamis 1 Juni 2023.

Lebih lanjut, kata Rim, berdasarkan penelusuran keberadaan kain kulit kayu untuk tradisi dan proses pembuatannya telah dilakukan sejak zaman neolitikum atau sekitar 3700 tahun silam.

Baca juga: Dinas Kebudayaan Sulteng Pamerkan Puluhan Kain dan Baju Tradisional

Yang di mana para kaum perempuan kala itu merintis terjadinya revolusi kebudayaan dengan mengembangkan keterampilan menenun kain kulit kayu.

Kulit kayu biasanya diperoleh dari batang kayu yang telah diolah dengan teknik khusus.

Proses ini melibatkan pengupasan kulit kayu dari batang menggunakan alat-alat tradisional, seperti pisau tajam atau alat serupa.

Kulit kayu yang dihasilkan kemudian diolah lebih lanjut untuk menghasilkan kain yang kuat dan elastis.

Proses pembuatan kain kulit kayu ini membutuhkan keahlian dan pengetahuan yang diturunkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Meskipun saat ini telah ada perkembangan teknologi dan bahan tekstil modern, beberapa masyarakat di Sulawesi Tengah masih mempertahankan tradisi pembuatan kain kulit kayu ini sebagai bagian dari warisan budaya mereka.

Tradisi tersebut terutama berkembang di sekitar Taman Nasional Lore Rindu, khususnya di Lembah Bada, Kecamatan Lore Selatan, Lembah Behoa di Kecamatan Lore Tengah, Lembah Napu di Kecamatan Lore Utara dan Lembah Kulawi di Kecamatan Kulawi dan berbagai kecamatan hasil pemekaran lainnya.

Rim menambahkan, dalam pembuatan kain kulit kayu itu ada beberapa jenis kayu yang dapat digunakan untuk di olah menjadi kain yang sangat indah mulai dari Kayu Ivo, Kayu Malo, dan Kayu Nunu (pohon beringin).

“Semoga lah pembuatan kain kulit kayu ini tidak akan pernah berhenti dan terus menjadi sejarah di setiap generasi yang akan muncul nantinya,” tambahnya.

Sekedar informasi, hingga saat ini kain atau pakaian yang terbuat dari kain kulit kayu masih dipertahankan serta digunakan dalam berbagai upacara adat dan kesenian sehingga masih menjadi kebanggaan bagi Sulawesi Tengah, khususnya masyarakat Desa Kulawi dan Lembah Bada. (Angel)