Hetifah Sjaifudian Gaungkan Optimalisasi Pendidikan

Hetifah Sjaifudian Gaungkan Optimalisasi Pendidikan
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian. Foto: Devi/rni

KABAR SULTENG, – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian gaungkan optimalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi untuk pembangunan IKN.

Hal tersebut disampaikan Hetifah Sjaifudian saat menggelar pertemuan dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah serta rektor dan direktur politeknik se-Kalimantan Timur.

Turut didampingi Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Kiki Yulianti dan Direktur APTV Kemendikbudristek Beny Bandanadjaja, Hetifah Sjaifudian gaungkan optimalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi untuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Diketahui, di Kaltim,  ada 37 Sekolah Menengah Kejuruan Pusat Keunggulan (SMK PK). Dari jumlah itu ada 35 yang sudah menerapkan kurikulum merdeka dan 33 di antaranya sudah mendaftar di platform Merdeka Mengajar. Namun, lanjut Hetifah, masih ada yang menjadi tantangan sekolah vokasi yaitu mismatch antara permintaan dan penawaran tenaga kerja, dimana proporsi pengangguran terdidik menjadi yang terbesar.

“Kalimantan Timur sebagai provinsi yang menaungi Ibu Kota Nusantara sudah seharusnya mendapatkan perhatian, khususnya di bidang pendidikan, agar SDM-nya banyak terserap di dunia kerja. Saat ini kita kekurangan tenaga ahli konstruksi untuk pembangunan di IKN dimana diharapkan SDM-nya berasal dari masyarakat Kaltim,” kata Hetifah melalui keterangan pers dikutp dari laman resmi DPD RI, Sabtu (6/8/2022).

Sepakat dengan Hetifah, Kepala Sekolah SMK 1 Penajam Paser Utara (PPU) Toni menegaskan bahwa dalam persiapan menuju Ibukota Nusantara diperlukan peran sekolah vokasi. “Bukan hanya perangkat dan infrastruktur tetapi juga pendampingan dari perguruan tinggi untuk mengubah mindset guru-guru di SMK,” kata Toni.

Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek RI Kiki Yulianti meyakini diperlukan cara kerja bersama untuk mengembangkan Ibukota Nusantara, karena pasti akan terjadi akulturasi budaya, kebutuhan akan adaptasi cara pandang, cara pikir dan cara kerja. Hal ini membuat pemerintah harus jeli melihat situasi yang dinamis. “Agar terjadi sharing knowledge dari SMK PK kepada SMK-SMK lainnya di Kalimantan Timur, agar Kalimantan Timur mampu menyiapkan smart people untuk kota futuristik dengan kawasan hijau,” tutup Kiki.